Tuesday, June 12, 2007

Kata Mereka Tentang Kita

Oleh Muhammad Arfah D
Boulevard ITB


Saya mendorong keras gerbang besar Gedung Pastoral Keuskupan, menyapa resepsionis, dan menaiki tangga menuju Bale Pustaka. Hari itu, tiga buku mesti saya kembalikan. Saat pustakawan melayaniku dengan senyum sinis, ada sapaan terdengar dibalikku. “Eh, anak ITB mainnya ampe Bale ya ternyata, bukannya rektor kalian nyuruh untuk belajar di kampus, hehehe.” Saya hanya beri senyum sebagai balasan.

Dua kawan komunitas sastra, yang berasal dari latar pendidikan bukan ITB, saya ajak untuk melihat Deddy Mizwar di acara LFM, Naga Bonar Nyasar ke ITB, Minggu, 29 April lalu. LFM yang bekerjasama dengan KM ITB saat itu menayangkan kabar rencana OSKM 2007. Di salah satu tampilannya, ada kata ‘Cuma nonton kok! Gak akan di-DO’. “ITB banget!” timpal salah seorang kawan. Dan lagi-lagi saya hanya bisa tersenyum.

Begitulah. Dua perspektif di atas jelas menunjukkan bagaimana mahasiswa ITB di kacamata mereka. Kita, setidaknya menurut dua orang kawan luar ITB, seolah berada pada kondisi yang ‘terpenjara’. Beban kuliah yang berat, pengetatan gerak organisasi oleh rektorat, ketakutan pada akademis. Kecintaan ilmu keteknikan yang terlampau besar pun menjadikan kita seolah tak punya ilmu lain. “Mayoritas mahasiswa ITB tuh kaku, dan banyak yang nganggur, karena terlalu idealis ma ilmunya,” komentar Yulianti Eka Sasmita, mahasiswa Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI angkatan 2004. Sebagian besar dari kita melakukan ini demi meningkatkan nilai ekonomis diri dan keluarga. Tentu banyak yang menginginkan beasiswa, kerja di perusahaan besar, dan menjadi sukses, tanpa memperhatikan proses intektualitas yang dilalui semasa kuliah.

Yasraf Amir Piliang, dosen Pasca Sarjana Desain Produk ITB, berkata, “Saat ini, sebagian besar mahasiswa, termasuk mahasiswa ITB, melihat kederajatannya lewat nilai ekonomis, dan nilai intelektualitas berada pada posisi terendah.” Kita bisa berkaca dengan cermin yang sederhana. Ada tugas menulis essai agama, sebagian besar dari kita malas mencoba jalan yang ‘sulit’. Tinggal masuk di dunia maya, mencomot beberapa artikel, lalu menggabungkannya jadi satu. Parahnya lagi, essai itu disahkan sebagai karya pribadi.

Apa ini disebabkan ketidakketerbukaan pikiran mahasiswa ITB terhadap hal lain? Komunitas sastra, teater, diskusi filsafat, di seantaro kota Bandung memang jarang memperlihatkan wajah-wajah ITB. Ilmu di luar keteknikan seperti menjadi ‘aneh’ jika dibicarakan oleh kita. Maka saat ilmu tersebut dihadapkan, kita angkat tangan dan memilih cara pragmatis untuk menghadapinya.

Terjadi transformasi perilaku mahasiswa lampau dengan mahasiswa kini. Mahasiswa lampau yang peduli dengan dunia luarnya, mahasiswa kini yang terkesan hanya peduli dengan dirinya. Fenomena ini terjadi setelah pemerintahan Soeharto mengeluarkan Normalisasi Kehidupan Kampus.

“Mahasiswa ITB tuh dikebiri. Mahasiswa ITB menjadi korban dari sebuah sistem. Siapa yang mau kuliah lama dengan spp yang sebegitu besarnya?” ungkap Sang Denai, mantan mahasiswa Universitas Islam Bandung. Setelah normalisasi era Orde Baru, sistem bermain untuk mengarahkan mahasiswa hanya pada belajar keakademisan. Entah mengapa, sistem ini berlanjut pada era reformasi, bahkan pada tingkat ‘mengkhawatirkan’.

Keaktifan kita di luar kampus jelas dibutuhkan. Melihat kondisi luar sebagai pemetaan pikiran menjadi lebih terbuka. Soal sistem yang mengebiri, kita harap generasi tua bisa mengerti kehausan kita pada dunia. []

------
Boulevard ITB Edisi 57

No comments: