<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-10223840</id><updated>2012-01-12T06:03:16.502-08:00</updated><title type='text'>Boulevard's Blog</title><subtitle type='html'>Bacalah apa yang ada di benak anak-anak boulevard</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://boulevarditb.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10223840/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://boulevarditb.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>boulevard</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12894712547553283504</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>26</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10223840.post-2511568421662622176</id><published>2007-06-12T10:21:00.000-07:00</published><updated>2007-06-12T10:24:27.620-07:00</updated><title type='text'>"I Am Gay"</title><content type='html'>Oleh Batari Saraswati dan Floresiana Yasmin Indriasti&lt;br /&gt;Boulevard ITB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Masih ingat adegan dari film Arisan yang diputar beberapa waktu lalu di bioskop? Di akhir cerita, salah satu tokoh utama yang diperankan oleh Tora Sudiro memperkenalkan diri:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Saya, Sakti. I am gay.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jangan kaget jika suatu hari kamu berkenalan dengan tokoh serupa Sakti di kampus ITB.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soni, bukan nama sebenarnya, adalah seorang mahasiswa ITB. Laki-laki yang terkesan kalem ini mengaku pertama kali menyadari penyimpangan orientasi seksualnya sejak kelas 6 SD. Tak seperti layaknya laki-laki pada umumnya, Soni merasa lebih tertarik pada sesamanya. Bahkan dia mengaku, “SMP kelas 3 gue udah ngga bernafsu ngeliat cewek.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soni, lulusan salah satu SMA ternama di Jakarta, baru mulai berani membuka diri saat kuliah. “Gue udah tau di ITB banyak. Gue masuk ITB alasannya itu,” ujarnya sambil tertawa. Gay ITB berkumpul dan melahirkan semacam komunitas. Terhitung sejak awal tahun ini, sudah empat kali mereka mengadakan gathering, dan tempatnya di luar kampus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebelumnya ada gathering se-Bandung, tapi anak-anak ITB cenderung lebih ke dalam,” lanjutnya. Alasannya, menurut Soni, ada beberapa teman yang beranggapan komunitas gay di luar ITB sudah tidak jelas ’main’nya ke mana. “Padahal nggak juga,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya mahasiswa ITB yang datang ke acara gathering, alumni angkatan ’70 pun pernah hadir di sana. “Salah satu pengamat ekonomi lah...,” tandas Soni yang mengaku lupa nama dari alumni tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kesempatan lain kami bertemu dengan teman Soni. Sebut saja, Anton. Dia pun cukup aktif terlibat dalam komunitas gay ITB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gak ada official leadernya. Cuman, ada orang yang dipercaya untuk ngadain gathering, namanya host,” begitu penjelasan Anton ketika ditanya ’cara kerja’ komunitas ini. Host berganti setiap kali gathering. Anton sendiri pernah menjadi host salah satu gathering yang diadakan pada pertengahan Januari lalu di salah satu kafe di daerah Cibeunying.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sempat beredar isu bahwa komunitas ini ingin mengukuhkan diri sebagai unit. Bahkan, terdengar kabar bahwa proposal pendirian unit itu sudah sampai ke Lembaga Kemahasiswaan. “Iya, gua pernah dengar tuh. Tapi mau ngapain juga dibikin unit. Kegiatannya apa?” komentar Anton, sangsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anton mengaku bahwa banyak orang dari komunitas ini mengganggap ia adalah simbol. Dia memang ‘terbuka’ mengenai orientasi seksualnya pada lingkungan sekitar, dan merasa nyaman. Dia bahkan aktif di himpunan dan sempat memegang jabatan struktural. “Tidak ada perlakuan diskriminatif,” ujarnya. Tapi ada beberapa orang yang tidak setuju dan memilih tidak berinteraksi lagi dengan Anton. “Sedikit, hitunglah dari seribu orang, satu yang begitu,” ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gay di ITB itu beda sama gay di luar. Mereka lebih jaim. Ada yang kalau ketemu gua, pura-pura gak kenal,” komentar Anton soal teman-teman gay di ITB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini dibenarkan pula oleh Andi, salah seorang gay lain yang kami temui. “Anak luar ITB lebih open minded, anak ITB lebih suka sendiri-sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kebiasaan yang terkesan individual itu, tercetus lah ide gathering. Sekedar untuk saling mengenal dan have fun, demikian alasan yang diungkapkan Andi yang merasa lebih sreg menggunakan kata ’arisan’ ketimbang ’komunitas’ untuk merujuk pada perkumpulan kaum gay di ITB. ”Acaranya biasanya tuh cuma kenalan, terus ada games, ngobrol-ngobrol. Ya gitu-gitu aja...,” imbuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya bercerita tentang gathering, Andi pun bersedia berbagi pengalamannya. “Menjadi gay itu ada fasenya. Pertama denial, di fase ini yang menentukan nantinya gimana. Ini fase yang susaaah banget. Masa denial gue 5 tahun. Kedua, acceptance. Di sini udah mulai curious dan cari informasi,” jelas Andi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Andi, menjadi gay itu adalah pilihan. "Hidup itu pilihan, gue pengen kayak gini," ujarnya. "Gue milih ini karena gue udah siap. Kebanyakan orang suka let it flow dan tahu-tahu mereka stuck, ’kok gue udah sejauh ini ya?’”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia pun sudah memantapkan hatinya untuk tidak akan menyukai lawan jenis, sekalipun ia pernah merasakan pacaran ‘normal’ semasa SMA. Bukan karena perempuan tidak menarik. “Buat gue cewek hanya untuk dikagumi,” ujarnya tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan lesbian? Arin, bukan nama sebenarnya, juga mahasiswa ITB.  Sekilas, tidak ada yang berbeda pada Arin, hanya sikapnya yang sedikit tomboy. Dia mengaku sudah mulai merasakan suka pada perempuan sejak ia duduk di bangku SD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gua bi (biseks-red),” akunya. Beberapa waktu lalu ia bertunangan dengan pacarnya, seorang laki-laki. Namun saat ini sudah tidak lagi. “Gua sayangnya sama cewek, ya udah....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana Arin membedakan perasaan sayang ini, sebagai sekedar perasaan terhadap teman atau pacar? “Ya gua deg-degan. Kan gak lucu kalo deg-degan sama temen.” Baginya, perempuan yang menarik adalah perempuan berambut panjang, berkulit putih, dan juga pintar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendeteksi seseorang homoseksual atau tidak, baik Arin, Soni, Anton maupun Andi, sepakat bahwa kaum homoseksual umumnya dianugerahi gaydar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soni mengatakan kaum lesbian umumnya lebih tertutup, namun Arin mengaku, ia dan beberapa teman lesbian lainnya sering ikut berkumpul saat gathering kaum gay dilakukan. Membandingkan komunitas homoseksual di luar dan dalam ITB, Arin berkomentar, “Anak luar lebih ngumpul hedon yang keterlaluan. Kuliah keteteran. Anak ITB nggak, masih terkontrol, masih punya otak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa sih gunanya orientasi seksual? Gua pikir yang lebih ngaruh itu apa yang lo lakuin. Percuma aja kalo lo lurus kalau hidup lo bejat dan gak pernah melakukan apa pun untuk orang lain. That doesn’t mean anything,” ujar Arin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, mereka bukannya tidak menyadari perilaku mereka dapat menuai tantangan dari berbagai pihak. Rendy Saputra (TM’04), Sekretaris Jendral Keluarga Mahasiswa Islam yang juga Anggota Majelis Syuro’, berkomentar, ”Pertama, mereka (kaum gay-red) tidak bisa memberikan keturunan. Kedua, itu ’barang’ tidak dimasukkan ke tempat yang benar, kan.” Ketakutan Rendy ialah lahirnya pelabelan sosial jika sampai komunitas gay ini mendeklarasikan diri dan diterima oleh ITB. “‘ITB saja, universitas yang intelektual dan pemikiran rasional punya keberterimaan kepada komunitas ini’. Berarti Indonesia nggak cerdas, dong.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rendy lebih lanjut berkata, “Anda (gay–red) bukan musuh. Anda bukan untuk dikucilkan. Tapi Anda ini sakit dan harus diobati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bagi Anton, tidak ada istilah sakit dalam komunitas mereka. “Cuma gara-gara jumlahnya sedikit aja kok,” ujarnya. “Gua gak suka gua ditanyain ‘kapan sembuh?’ Sembuh dari apa?” []&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------&lt;br /&gt;Boulevard ITB Edisi 57&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10223840-2511568421662622176?l=boulevarditb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://boulevarditb.blogspot.com/feeds/2511568421662622176/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10223840&amp;postID=2511568421662622176' title='32 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10223840/posts/default/2511568421662622176'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10223840/posts/default/2511568421662622176'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://boulevarditb.blogspot.com/2007/06/i-am-gay.html' title='&quot;I Am Gay&quot;'/><author><name>ikram</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://ikramputra.googlepages.com/avatarikram.jpg'/></author><thr:total>32</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10223840.post-7576048281892403056</id><published>2007-06-12T10:18:00.000-07:00</published><updated>2007-06-12T10:20:34.582-07:00</updated><title type='text'>Kata Mereka Tentang Kita</title><content type='html'>Oleh Muhammad Arfah D&lt;br /&gt;Boulevard ITB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mendorong keras gerbang besar Gedung Pastoral Keuskupan, menyapa resepsionis, dan menaiki tangga menuju Bale Pustaka. Hari itu, tiga buku mesti saya kembalikan. Saat pustakawan melayaniku dengan senyum sinis, ada sapaan terdengar dibalikku. “Eh, anak ITB mainnya ampe Bale ya ternyata, bukannya rektor kalian nyuruh untuk belajar di kampus, hehehe.” Saya hanya beri senyum sebagai balasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua kawan komunitas sastra, yang berasal dari latar pendidikan bukan ITB, saya ajak untuk melihat Deddy Mizwar di acara LFM, Naga Bonar Nyasar ke ITB, Minggu, 29 April lalu. LFM yang bekerjasama dengan KM ITB saat itu menayangkan kabar rencana OSKM 2007. Di salah satu tampilannya, ada kata ‘Cuma nonton kok! Gak akan di-DO’. “ITB banget!” timpal salah seorang kawan. Dan lagi-lagi saya hanya bisa tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah. Dua perspektif di atas jelas menunjukkan bagaimana mahasiswa ITB di kacamata mereka. Kita, setidaknya menurut dua orang kawan luar ITB, seolah berada pada kondisi yang ‘terpenjara’. Beban kuliah yang berat, pengetatan gerak organisasi oleh rektorat, ketakutan pada akademis. Kecintaan ilmu keteknikan yang terlampau besar pun menjadikan kita seolah tak punya ilmu lain. “Mayoritas mahasiswa ITB tuh kaku, dan banyak yang nganggur, karena terlalu idealis ma ilmunya,” komentar Yulianti Eka Sasmita, mahasiswa Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI angkatan 2004. Sebagian besar dari kita melakukan ini demi meningkatkan nilai ekonomis diri dan keluarga. Tentu banyak yang menginginkan beasiswa, kerja di perusahaan besar, dan menjadi sukses, tanpa memperhatikan proses intektualitas yang dilalui semasa kuliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yasraf Amir Piliang, dosen Pasca Sarjana Desain Produk ITB, berkata, “Saat ini, sebagian besar mahasiswa, termasuk mahasiswa ITB, melihat kederajatannya lewat nilai ekonomis, dan nilai intelektualitas berada pada posisi terendah.” Kita bisa berkaca dengan cermin yang sederhana. Ada tugas menulis essai agama, sebagian besar dari kita malas mencoba jalan yang ‘sulit’. Tinggal masuk di dunia maya, mencomot beberapa artikel, lalu menggabungkannya jadi satu. Parahnya lagi, essai itu disahkan sebagai karya pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa ini disebabkan ketidakketerbukaan pikiran mahasiswa ITB terhadap hal lain? Komunitas sastra, teater, diskusi filsafat, di seantaro kota Bandung memang jarang memperlihatkan wajah-wajah ITB. Ilmu di luar keteknikan seperti menjadi ‘aneh’ jika dibicarakan oleh kita. Maka saat ilmu tersebut dihadapkan, kita angkat tangan dan memilih cara pragmatis untuk menghadapinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjadi transformasi perilaku mahasiswa lampau dengan mahasiswa kini. Mahasiswa lampau yang peduli dengan dunia luarnya, mahasiswa kini yang terkesan hanya peduli dengan dirinya. Fenomena ini terjadi setelah pemerintahan Soeharto mengeluarkan Normalisasi Kehidupan Kampus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mahasiswa ITB tuh dikebiri. Mahasiswa ITB menjadi korban dari sebuah sistem. Siapa yang mau kuliah lama dengan spp yang sebegitu besarnya?” ungkap Sang Denai, mantan mahasiswa Universitas Islam Bandung. Setelah normalisasi era Orde Baru, sistem bermain untuk mengarahkan mahasiswa hanya pada belajar keakademisan. Entah mengapa, sistem ini berlanjut pada era reformasi, bahkan pada tingkat ‘mengkhawatirkan’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keaktifan kita di luar kampus jelas dibutuhkan. Melihat kondisi luar sebagai pemetaan pikiran menjadi lebih terbuka. Soal sistem yang mengebiri, kita harap generasi tua bisa mengerti kehausan kita pada dunia. []&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------&lt;br /&gt;Boulevard ITB Edisi 57&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10223840-7576048281892403056?l=boulevarditb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://boulevarditb.blogspot.com/feeds/7576048281892403056/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10223840&amp;postID=7576048281892403056' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10223840/posts/default/7576048281892403056'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10223840/posts/default/7576048281892403056'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://boulevarditb.blogspot.com/2007/06/kata-mereka-tentang-kita.html' title='Kata Mereka Tentang Kita'/><author><name>ikram</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://ikramputra.googlepages.com/avatarikram.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10223840.post-4257317836861708397</id><published>2007-06-12T10:16:00.000-07:00</published><updated>2007-06-12T10:18:29.893-07:00</updated><title type='text'>"Bapakmu ITB?"</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ketika mahasiswa tak lagi punya mimpi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Fadilla Tourizqua Zain dan M Arfah D&lt;br /&gt;Boulevard ITB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang alumni Teknik Sipil angkatan '86 menangis. Dia khawatir orang tuanya di Solo tidak makan layak beberapa hari. Sebab uang hasil narik becak bapaknya ditukar dengan sebuah kalkulator.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi mereka yang datang dari berbagai pelosok Indonesia, merantau jadi bukan kata asing lagi. Mereka membawa mimpi dari tempat asal mereka. Keluarga tentu punya harapan besar bahwa anak mereka akan meraih sukses di kampus gajah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu dulu. Sekarang, fenomena yang terjadi berbeda. Tidak sedikit mahasiswa ITB yang menyandang status generasi kedua. Alias orang tuanya lulusan ITB. Mereka mau tidak mau dititipi mimpi oleh orang tua mereka. Si generasi pertama. “Secara nggak langsung, yaa emang bokap gue ngarahin gue untuk masuk ITB,” aku Gita Prima Ramadhanti (TL ’04). Orangtuanya adalah alumni ITB angkatan 1978.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senada seperti yang diakui Gita, temannya, Dyah Wulandari Putri (TL ’04) juga bercerita. “Dari kecil, Ibu bilang untuk mengikuti jalur SMP 5, SMA 3, lalu ITB,” ungkapnya. Wulan, begitu ia akrab disapa, bukan mahasiswa perantau. Dia besar di Bandung. Kedua orang tua Wulan juga jebolan ITB. Ibunya, Endang Juliastuti (ITB’78), kini berprofesi sebagai dosen di Program Studi Fisika Teknik ITB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik Gita maupun Wulan punya keinginan tersendiri sebelum akhirnya kejeblos di ITB. “Dari kelas 2 SMA, waktu gue mau penjurusan. Sebenernya gue pengen masuk IPS, karena gue mau masuk Komunikasi,” kata Gita. Namun keduanya juga bersyukur dengan keadaan mereka sekarang. “Aku emang bukan tipe yang kreatif, yaa ikut aja apa yang dibilang ibu,” kata Wulan. “Kalau gue nggak di sini, mungkin gue udah terdampar di universitas swasta jakarta entah apa, hahaha...,”  timpal Gita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain lagi dengan Yuki Hastarina (FA ’02). Dia kini sedang menjalani Tugas Akhir, tapi masih mengutuki diri yang rela masuk jurusan yang tidak diminatinya itu. “Sejak SMA, almarhum bokap gue menyuruh gue masuk ITB. Bukan menyarankan, benar-benar nyuruh. Bahkan waktu mendekati SPMB dia spesifik nyebut satu jurusan. Farmasi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Almarhum ayah Yuki adalah lulusan Kimia. ”Waktu itu ayah bilang, kalau masuk Farmasi mungkin saya bisa bantu-bantu di proyeknya.” Yuki sendiri sebenarnya berkeinginan kuliah di Psikologi Unpad. Kalau dipikir, Farmasi ITB dan Psikologi Unpad sedikit banyak kan berhubungan dengan medis, “Gue suka belajar tentang manusia. Tapi bukan tentang anatominya. Gue lebih tertarik dengan sisi psikisnya.” Namun ayahnya saat itu tak kunjung menghiraukan keinginan Yuki. “Bokap emang mendidik anak-anaknya dengan keras. Keinginan gue sepertinya jadi angin lalu aja. Hidup gue seakan-akan tuh dia yang garisin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadar dengan keadaan, Yuki mencoba melihat-lihat jurusan apa di ITB yang kira-kira cocok untuknya. Tapi Yuki tidak menemukannya. Akhirnya ia pasrah. Kode jurusan Farmasi dan Biologi ITB ia lingkari di formulir SPMB. Keduanya pilihan sang ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaan ‘salah jurusan’ mulai ia rasakan saat lepas dari TPB. Dia sempat cuti kuliah pada semester 6. Inilah titik jenuhnya. Semua rasa bercampur; jenuh dengan kuliah yang tidak ia senangi, kehilangan ayah, dan harus bekerja. “Tapi ada sedikit rasa lega dalam hati saat itu. Satu tekanan hilang.” ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gita, Wulan, dan Yuki. Bukan berarti mereka tak bisa mengembangkan minat mereka. ”Gue pernah waktu itu memintal. Dan gue nunjukin hasil pintalan ke bokap gue. Trus tau nggak bokap bue bilang apa, ’Masa udah papa sekolahin jauh-jauh ternyata hasilnya jadi tukang jahit?’, hahahaha..., ” cerita Gita. Cita-cita Gita sebenarnya sederhana. ”Gue pengen jadi ibu rumah tangga yang baik. Nggak mau kerja kalo bisa.”  Tapi baginya itu hanya sekedar cita-cita. Dia harus tetap bekerja seperti lulusan kebanyakan. Dia dan Wulan ingin kerja di perusahaan industri. Yuki juga menikmati perannya. Dia bersama temannya mendirikan usaha. Yuki kebagian bidang keuangan. ”Gue sadar gue bagus di angka-angka, dan gue menikmati banget.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba sekilas kita menikmati keromantisan masa lalu. Nur Rahman As’ad lulusan Teknik Mesin angkatan 1990, yang kini berprofesi sebagai Dosen Teknik Industri di Universitas Islam Bandung, bercerita betapa kebersamaan begitu kental. ”Dulu saya tinggal di asrama Kebon Sirih, tempat kami dari Sulawesi Selatan berkumpul, pulang ke kampung halaman bersama, balik ke Bandung pun bersama.” Di tahun 90-an, saat lapangan sepakbola, basket, dan tenis masih berada di tengah kampus, sore sehabis ujian hari Rabu, mahasiswa TPB berkumpul di sana. Tiap sore daerah Student Center (SC), begitu nama Campus Center dahulu, dipenuhi dengan suara gamelan, gendang, teriakan-teriakan mahasiswa yang sedang berolahraga, segala UKM berkumpul dan berkegiatan. Loedroek dan LFM menjadi salah satu hiburan rutin dan murah bagi mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika membandingkan dengan zamannya, Nur Rahman tentu melihat perbedaan besar. ”Daya juangnya beda, mungkin karena mahasiswa sekarang lahir di keluarga mapan. Jika saya pulang dari kerja lewat jalan Ganesha, saya lihat tumpukan motor dan mobil di parkiran depan.” Lebih lanjut ia bercerita, bahwa mahasiswa dulu punya keinginan besar dan punya alasan kuat untuk masuk ITB. ”Kami datang dari jauh, hidup dengan uang kiriman seadanya. Dulu ada kantin Tubagus di lokasi pembangunan ruko, depan MCCF di Tubagus dekat Simpang. Pernah satu akhir bulan, ada seorang kawan ngambil lauk lebih dulu, baru ngambil nasi buat nutupin lauknya. Hahaha.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuliah selalu diisisipi dengan pewacanaan sosial atau politik. ”Mungkin karena dulu banyak dosen muda,” ungkap Nur Rahman. Tak heran, saat bendera himpunan atau sebuah organisasi dikibarkan oleh seseorang di depan gerbang, secara spontan mahasiswa berkumpul dan berorasi. Berbeda dengan mahasiswa sekarang. Apa mungkin beban kuliah yang semakin besar? ”Tugas kuliah, sama beratnya saya pikir. Bahkan kami dulu tak pernah dibiarkan mapan dalam belajar. Tapi untuk batas waktu menjadi mahasiswa. Itu memang!” lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, begitu banyak yang berubah. Terlepas dari zaman yang berbeda, tentu ada indikasi generasi kedua menjadikan mahasiswa sekarang tidak sama dengan mahasiswa dulu. Tak punya mimpi, berimbas pada daya juang yang semakin menipis. []&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------&lt;br /&gt;Boulevard ITB Edisi 57&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10223840-4257317836861708397?l=boulevarditb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://boulevarditb.blogspot.com/feeds/4257317836861708397/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10223840&amp;postID=4257317836861708397' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10223840/posts/default/4257317836861708397'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10223840/posts/default/4257317836861708397'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://boulevarditb.blogspot.com/2007/06/bapakmu-itb.html' title='&quot;Bapakmu ITB?&quot;'/><author><name>ikram</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://ikramputra.googlepages.com/avatarikram.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10223840.post-3199255733231563990</id><published>2007-06-12T10:02:00.000-07:00</published><updated>2007-06-12T10:14:05.162-07:00</updated><title type='text'>Banalitas Budaya Kampus</title><content type='html'>Oleh Yasraf Amir Piliang&lt;br /&gt;Ketua Forum Studi Kebudayaan (FSK)&lt;br /&gt;Fakutas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah kebudayaan bangsa akhir-akhir ini menunjukkan kecenderungan perubahan ke arah kondisi, yang di dalamnya dirayakan aspek-aspek kebudayaan yang bersifat permukaan. Ruang-ruang kebudayaan dipenuhi oleh berbagai pertunjukan, tontonan, tayangan, representasi  dan tindakan-tindakan yang mengeksploitasi berbagai bentuk yang bernilai rendah, banal dan dan tak-esensial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang-ruang budaya politik, ekonomi, hukum, media, hiburan, pendidikan,  bahkan agama dipenuhi oleh berbagai strategi populer atau popularisme, yang menggunakan model-model strategi dan psikologi massa budaya populer, dalam rangka mencari popularitas, menghimpun massa, memenangkan pemilihan, mendapatkan pengikut, meningkatkan rating atau mencari keuntungan—popular strategies.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecenderungan ke arah strategi populer di dalam kebudayaan bangsa, termasuk budaya kampus,  telah menggiring ke arah pendangkalan dan banalitas di dalam budaya politik, hukum, media, pendidikan, bahkan agama. Di dalam banalitas itu, iklan politik tidak dapat dibedakan lagi dari iklan sabun mandi; lembaga pendidikan tidak dapat dibedakan lagi dari agen-agen perjalanan; ceramah agama tidak dapat dibedakan lagi dari pertunjukan musik panggung;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sifat permukaannya, aktivitas-aktivitas kebudayaan lebih cenderung mengeksploitasi berbagai bentuk histeria massa (mass histeria), yaitu strategi memanipulasi emosi massa, sehingga mencapai kondisi puncak tak terkendali atau ekstasi, yang diperlihatkan dalam berbagai bentuk teriakan, tangisan atau kesedihan massa, baik dalam aktivitas politik, tontonan media, atau ritual keagamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam ruang kebudayaan berlangsung sebuah proses pembalikan cultural (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;cultural reversal&lt;/span&gt;), yaitu proses ‘pengesensialan yang banal’, dan sebaliknya’ banalisasi yang esensial’. Segala yang tak-esensial—tetapi menghibur, menyenangkan, mempesona, dan menghanyutkan—mendapatkan ruang yang mewah di dalam media-media kebudayaan; sebaliknya, segala yang esensial—yang berguna dalam rangka pembangunan kreativitas bangsa, karakter bangsa (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;character building&lt;/span&gt;) dan pendidikan publik—justru tidak mendapatkan ruang hidupnya—&lt;span style="font-style: italic;"&gt;the banality of culture&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Theodor Adorno, di dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Culture Industry&lt;/span&gt; (1991) mengatakan, bahwa kebudayaan yang dibangun mengikuti model-model budaya komoditi (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;culture industry&lt;/span&gt;), termasuk budaya kampus,  hanya menghasilkan wujud-wujud kebudayaan yang dangkal, yang di dalamnya lebih dipentingkan daya tarik, keterpesonaan dan ekstasi massa yang bersifat temporer, dengan mengeksploitasi berbagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fetishism&lt;/span&gt;, untuk memenuhi hasrat rendah (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;desire&lt;/span&gt;) manusia, di antaranya adalah seks, kekerasan dan mistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebudayaan dalam format budaya massa cenderung dikendalikan oleh sekelompok elit (produsen, pengusaha, media), yang dalam rangka menarik massa yang luas,  menciptakan bentuk-bentuk kebudayaan yang dapat dipahami dengan mudah oleh massa, sehingga ia cenderung bergantung pada bentuk-bentuk kebudayaan yang ringan, enteng, mudah, menghibur, menarik perhatian (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;eye catching&lt;/span&gt;) dan menimbulkan pesona—inilah banalitas kebudayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banalitas politik (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;banality of politics&lt;/span&gt;) telah  menciptakan ruang-ruang publik politik yang dipenuhi oleh segala sesuatu yang bersifat permukaan, dangkal dan populer, yang tidak konstruktif bagi pendidikan publik politik. Berbagai keputusan politik (pilihan politik, kebijakan politik, strategi politik) sangat dibentuk oleh sifat populerisme ini, sehingga menggiring ke arah ‘pengkerdilan politik’, yang kini menggantungkan hidupnya pada citra permukaan dan populerisme tokoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banalitas media (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;banality of media&lt;/span&gt;) telah menciptakan ruang-ruang media yang dipenuhi oleh berbagai fetishism bintang, tubuh, obyek, kekerasan dan mistik, yang motif utamanya adalah menciptakan kepuasan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;jouissance&lt;/span&gt;) demi keuntungan, bukan pendidikan publik.  Berbagai acara tontonan sinetron, kuis, reality show dan mistis menyedot habis-habisan kesadaran massa, yang digiring ke alam histeria, keterpesonaan dan kecanduan, sehingga tidak mempunyai ruang bagi pengembangan diri dan perenungan eksistensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banalitas ekonomi (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;banality of economy&lt;/span&gt;) menciptakan ruang-ruang ekonomi yang dipenuhi oleh berbagai komoditi yang lebih banyak mengeksploitasi nilai tanda (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;sign value&lt;/span&gt;) dan libido (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;libidinal value&lt;/span&gt;), ketimbang nilai guna (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;use value&lt;/span&gt;); mengeksploitasi hasrat ketimbang kebutuhan. Berbagai produk—mobil, hand phone, kamera, pakaian—telah menggiring orang ke dalam ekstasi pergantian penampakan atau gayanya tanpa henti, yang sesungguhnya tidak esensial dibandingkan nilai-nilai gunanya, tapi kini dianggap penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banalitas budaya kampus telah menciptakan lingkungan kampus, yang di dalamnya ruang-ruang kampus tidak ubahnya seperti ‘&lt;span style="font-style: italic;"&gt;shop display&lt;/span&gt;’, yang di dalamnya mahasiswa lebih senang, di satu pihak, menampilkan gaya pakaian, gaya bicara, gaya handphone, gaya mobil, gaya tongkrongan, sebagai cara untuk menampilkan status, prestise, dan kelas, ketimbang mengejar pengetahuan; di pihak lain, tenggelam dalam mengejar tugas, nilai, dan kelulusan, tetapi tidak punya waktu dan keinginan untuk bersosialisasi dan bergaul di dalam kehidupan nyata (sosial, politik, kultural, spiritual). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banalitas kampus telah  menciptakan ruang-ruang kampus, yang telah berbaur dengan ruang-ruang budaya populer dan gaya hidup. Aktivitas-aktivitas kampus, di satu pihak,  kini mengikuti model-model ekspresi budaya populer: kuliah di sebuah cafe, yang menyediakan door prize, studi banding (baca: jalan-jalan) yang disponsori perusahaan; di pihak lain, mengikuti model asylum, di mana mahasiswa dikondisikan hidup di dalam sebuah ruang ‘steril’, yang tidak ada kontak dengan masyarakat umum, dan persoalan sosial nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banalitas budaya kampus menciptakan anak bangsa sebagai manusia yang cenderung ‘hanyut’ di dalam apa-apa yang ditawarkan padanya (tontonan, produk, kesenangan, gaya, gaya hidup), tanpa mampu lagi mengembangkan daya kritis dalam dirinya.  Inilah manusia yang digambarkan Baudrillard, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;In the Shadow of the Silent Majorities&lt;/span&gt; (1983), sebagai manusia fatalis, yang tidak berdaya di dalam kekuasaan sistem (obyek, tontonan, media, citra), dan hanyut di dalam logikanya—homo fatalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia kampus sebagai manusia fatalis terserap ke dalam berbagai dunia (TV, fashion, komoditi, gaya hidup) yang bersifat permukaan, dan tidak dapat melepaskan diri darinya. Di dalamnya ia menjadi mayoritas yang diam (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;the silent majorities&lt;/span&gt;), yang tak mampu melakukan kritik dan refleksi, yang hanya dapat menyerap segala sesuatu, tanpa mampu menginternalisasikan dan memaknainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia kampus adalah manusia penikmat (gaya, pengetahuan, teori), ketimbang pencipta, konsumer ketimbang produser. Budaya kampus yang dibangun oleh manusia fatalis adalah kebudayaan yang tidak produktif, yang hanya menghasilkan ‘budaya konsumerisme’.  Inilah anak bangsa yang menghabiskan hidupnya, di satu pihak,  untuk mencari nilai, gelar dan kelulusan; di pihak lain kepuasaan, keterpesonaan dan kesenangan, dan tidak punya waktu lagi untuk mengembangkan aspek-aspek kemanusiaan lainnya: intelektualitas, produktivitas, sosialitas, spiritualitas dan religiusitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia fatalis adalah manusia yang sebagian besar ruang-waktunya dihabiskan di dalam banalitas layar (televisi, video game, chating, video), dan terserap ke dalam logika layar tersebut. Ia menerima secara tidak kritis gelombang citra-citra simulasi yang menyerang dirinya dari segala arah, sebagai cara ia memaknai hidupnya. Padahal, semuanya merupakan lukisan palsu tentang dirinya yang sebenarnya (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;true self&lt;/span&gt;), disebakan ia tidak mempunyai lagi daya resistensi dan daya kritis dalam menghadapi dunia banalitas tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam meneropong arah budaya kampus di masa depan, harus ada upaya-upaya untuk menghentikan dominasi banalitas, popularisme, sifat steril dan asylum budaya kampus. Berbagai upaya untuk menciptakan budaya tanding (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;counter culture&lt;/span&gt;) harus digalang, dalam rangka menciptakan wajah kebudayaan yang lebih produktif, substantif, humanis,  dan bermakna, yang di dalamnya manusia tidak lagi menjadi ‘subyek pasif’ kebudayaan, melainkan ‘subyek aktif’, yang mampu secara aktif, dinamis dan kreatif membangun dunia kebudayaannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, di masa depan yang dibutuhkan dalam rangka pembangunan budaya kampus yang lebih humanis, bermakna dan luhur adalah ‘manusia aktivis’, yaitu manusia yang mempunyai daya kritis, daya kreativitas, jiwa kepeloporan, keinginan berprestasi, hasrat inovasi,  dan jiwa kosmopolitan, yang secara bersama-sama mampu membangun sebuah masyarakat yang tidak lagi  dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan luar (kapitalisme, globalisasi), tetapi secara kreatif mampu memproduksi kebudayaan sendiri—&lt;span style="font-style: italic;"&gt;self producing society&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------&lt;br /&gt;Boulevard ITB Edisi 57&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10223840-3199255733231563990?l=boulevarditb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://boulevarditb.blogspot.com/feeds/3199255733231563990/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10223840&amp;postID=3199255733231563990' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10223840/posts/default/3199255733231563990'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10223840/posts/default/3199255733231563990'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://boulevarditb.blogspot.com/2007/06/banalitas-budaya-kampus.html' title='Banalitas Budaya Kampus'/><author><name>ikram</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://ikramputra.googlepages.com/avatarikram.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10223840.post-117638688695653370</id><published>2007-04-12T07:05:00.000-07:00</published><updated>2007-04-12T11:10:26.993-07:00</updated><title type='text'>ITB Tak Menjamumu Hari Ini!</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Oleh M Arfah D&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sabtu, 7 April 2007&lt;br /&gt;Kampus terbuka hanya untuk yang membawa undangan kuliah umum Wakil Presiden RI.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat di atas tertera jelas pada kertas putih yang digantung di tiap pintu masuk kampus Institut Teknologi Bandung. Jalan Ganesha lengang. Kedua sisi persimpangannya ditutup oleh deretan motor dan mobil dari Kapolwiltabes. Paspamres yang didelegasikan oleh TNI Angkatan Darat memasuki kampus, menjaga ketat gerbang utara dan Aula Barat, tempat saat Jusuf Kalla memberikan kuliah umum Penyelesaian Konflik di Indonesia. Ada satu meja depan di sebelah kanan gerbang utama. Di belakangnya duduk dua petugas dari Kesatuan Keamanan Kampus. Jika Anda bukan undangan, sekalipun Anda mahasiswa atau dosen ITB yang berniat masuk bukan untuk melihat kumis Pak Jusuf dan mendengarnya berbicara di podium, jelas Anda dilarang oleh dua petugas tersebut. Anda hanya bisa tersudut di Taman Ganesha dan Mesjid Salman, sebab hari itu, kampus ITB menjadi wilayah privat Wakil Presiden dan undangannya.&lt;br /&gt;Heran, kini kuliah umum harus dihadiri dengan membawa undangan. Jelas undangannya tentu orang-orang pilihan. Maka orang pintar pun akan semakin menjadi pintar. Parahnya, kampus dipilih menjadi tempat acara, yang kemudian menjadi seperti lokasi pernikahan. Pagi itu, sekitar 77 mahasiswa Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) angkatan 2006 terpaksa ujian matakuliah Biologi Umum di selasar Gedung Kayu Salman, dengan gelaran tikar dan pemandangan orang lalu lalang. Puri Artha Widhiasi (BI’04) sebagai salah satu koordinator ujian ditolak masuk untuk mengadakan ujian pukul 09.00 di tiga ruangan di Labtek Biru yang telah direncanakan sebelumnya. Dia diperintahkan untuk membawa surat ijin yang pun petugasnya tidak menjelaskan secara rinci bagaimana cara memperoleh surat tersebut. Hingga akhirnya, ujian dilaksanakan, molor 30 menit, setelah perdebatan menghasilkan keputusan bahwa satu dosen diperbolehkan masuk hanya untuk mengambil soal ujian dengan dikawal dua petugas.&lt;br /&gt;Tak hanya mahasiswa SITH yang dirugikan, mahasiswa Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan pun mengalami hal yang tidak lebih baik. ”Kami ke kampus untuk praktikum Komputer dan Pemrograman, dan tidak satu pun dari kami yang diperbolehkan masuk dengan alasan yang tidak jelas,” kata Kartika Rahma (FTSL’06). Proyek Khusus yang sedang dijalankan oleh sebagian mahasiswa Kimia angkatan 2004 pun harus mengalami kendala. Iis Fatmawati (KI’04) menyesalkan kedatangan Pak Jusuf yang memberikan dampak besar bagi prosedur praktikum mereka. Dan mahasiswa yang sedang penelitian untuk Tugas Akhir dan mesti berada di laboratorium hari itu, entah kini apa yang terjadi pada mereka.&lt;br /&gt;Kedatangan Jusuf Kalla ke kampus ITB untuk kuliah umum selama dua jam, dari pukul 13.00 hingga 15.00, merupakan satu pukulan hebat bagi masyarakat kampus, khususnya mahasiswa. Penjagaan ketat yang dilakukan sedari pagi, dan pembersihan jalan Ganesha dari rakyat biasa membuat mahasiswa garang. Seminar Nasional Quo Vadis Kemandirian Bangsa Indonesia diselenggarakan oleh Keluarga Mahasiswa (KM) ITB dan Forum Kajian Filsafat Bandung, yang sebelumnya direncanakan di Campus Center ITB dialihkan ke Gedung Sasana Budaya (Sabuga) ITB. Bahkan, informan yang lolos masuk ke kampus ITB secara tak sengaja, memberitahukan mesin ATM di dalam kampus semua dimatikan, dan hampir semua WC ditutup. Entah ketakutan semacam apa yang sedang menghinggapi pemerintah, atau Jusuf Kalla pribadi.&lt;br /&gt;Sempat ada dugaan Dwi A. Nugroho, Presiden KM ITB periode 2006-2007, terlibat dalam penutupan kampus. Anni Nuraeni (TL’04), Manajer SDM Sosial Politik, menegaskan Dwi tidak ada sangkut pautnya, dan saat dihubungi, Dwi sedang menghadiri Seminar Nasional di Sabuga bersama Amien Rais. Sebagian mahasiswa yang terpojok di pagar Mesjid Salman ingin beraksi sebagai bentuk penunjukkan sikap. Zulkaida Akbar (FI’03), yang akan menjadi pengganti Dwi untuk periode selanjutnya, mengundang Pak Djaji berbincang dan berbicara di hadapan mahasiswa, ”Tidak perlu kalian mencari persoalan lain, dan untuk hal ini, rektorat tak bisa ikut campur.” Pak Mashudi sebagai koordinator lapangan Kapolwiltabes mengatakan ia dan pasukannya bertugas untuk mengisolasi wilayah acara, tidak lebih. Izul, bersama mahasiswa lainnya, berencana melakukan sesuatu, tapi tertahan oleh hujan.&lt;br /&gt;Selebaran untuk pengadaan aksi datang dari sudut lain. Sehabis Dhuhur, puluhan mahasiswa muncul, mengenakan jas almamater, dan mengusung bendera KM ITB. Mereka berkumpul di Gelap Nyawang dan berorasi. Terlihat Army Al-Ghifary (MS’04) menjadi salah satu komando lapangan. Dalam orasinya, mereka menggugat pemerintahan SBY-JK yang tidak memberi perubahan.&lt;br /&gt;Seperti dalam kisah, peristiwa ini meninggalkan kekesalan yang tak terjawab. Yang pasti hari itu, mahasiswa ITB hanya mampu memandang gerbang kampusnya lewat pagar betis barisan polisi.**&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10223840-117638688695653370?l=boulevarditb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://boulevarditb.blogspot.com/feeds/117638688695653370/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10223840&amp;postID=117638688695653370' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10223840/posts/default/117638688695653370'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10223840/posts/default/117638688695653370'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://boulevarditb.blogspot.com/2007/04/itb-tak-menjamumu-hari-ini.html' title='ITB Tak Menjamumu Hari Ini!'/><author><name>boulevard</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12894712547553283504</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10223840.post-117308006669408292</id><published>2007-04-03T23:33:00.000-07:00</published><updated>2007-04-03T08:03:21.516-07:00</updated><title type='text'>Kelas Jurnalisme</title><content type='html'>Di saat orang-orang bergembira merayakan wisuda 3 Maret kemarin, kami di Campus Center juga bersenang-senang dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kelas Jurnalisme Boulevard&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/x/blogger/4664/514/1600/778982/kelas1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center;" 400="" src="http://photos1.blogger.com/x/blogger/4664/514/1600/778982/kelas1.jpg" alt="" border="0" height="300" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah kelas kecil-kecilan dengan tujuan memperkenalkan apa-itu-jurnalisme kepada teman-teman di kampus. Sengaja ingin kecil saja, supaya kelasnya bisa berlangsung dengan fokus dan akrab. Santai. Niatnya memang mengadaptasi model kursus Jurnalisme Sastrawi di Pantau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ternyata yang datang banyaaak sekali -- sampai-sampai tidak terlihat :) Total yang bisa tertangkap kamera hanya dua saja: Wan Intan (kiri) dan Rizky Diah (kanan bawah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/x/blogger/4664/514/1600/961314/we%27i.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/x/blogger/4664/514/1600/961314/we%27i.jpg" alt="" border="0" height="150" width="225" /&gt;&lt;/a&gt;Kami pertama-tama mendiskusikan resensi Andreas Harsono soal &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sembilan Elemen Jurnalisme&lt;/span&gt; (yang ditulis Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, 2001), lalu menghubungkannya dengan kenyataan sehari-hari. Pertanyaan klasik juga dibahas: apakah infotainment itu jurnalisme? Haha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian soal wawancara. Berapa banyak kata sih idealnya dalam satu pertanyaan? Makin sedikit rupanya makin baik. Kalau  terlalu panjang, malah bikin bingung narasumber.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, kami berlanjut ke tulisan. Tentang perbedaan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hard news&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;feature. &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/x/blogger/4664/514/1600/187587/kiki.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/x/blogger/4664/514/1600/187587/kiki.jpg" alt="" border="0" height="150" width="225" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;Kelebihan dan kekurangan masing-masing. Perbedaan struktur antara keduanya. (Kalau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;har&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;d news &lt;/span&gt;lebih berita, maka &lt;span style="font-style: italic;"&gt;feature&lt;/span&gt; lebih cerita.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wan Intan dan Rizky bilang, kelas kecil-kecilan ini lumayan menarik. Suasananya santai. Kalau ada yang kurang, maka itu terletak pada pembicaranya yang cuma satu. Membosankan mungkin hahahaha.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10223840-117308006669408292?l=boulevarditb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://boulevarditb.blogspot.com/feeds/117308006669408292/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10223840&amp;postID=117308006669408292' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10223840/posts/default/117308006669408292'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10223840/posts/default/117308006669408292'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://boulevarditb.blogspot.com/2007/04/kelas-jurnalisme.html' title='Kelas Jurnalisme'/><author><name>ikram</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://ikramputra.googlepages.com/avatarikram.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10223840.post-115405774517078741</id><published>2006-07-27T20:31:00.000-07:00</published><updated>2006-07-27T20:35:45.236-07:00</updated><title type='text'>Terror Marketing</title><content type='html'>Posisioning paling cepat menyebar saat ini adalah hanya berupa satu kata. Teror. Teror juga terorisme sebagai bentuk kata kerja. Pendekatan global yang dimulai dari (atau dipasarkan untuk seolah dimulai dari) para pejuang berdasar agama. Banyak pula berkata akar sebenarnya adalah ketidakseimbangan. Jurang tajam antara perlakuan negara maju terhadap negara berkembang. Yang mana yang berkata benar? Disinilah pentingnya pemasaran modern terhadap perang informasi. Pentingnya pembentukan persepsi pada benak dan imaji tiap individu yang unik menjadi sama rata. Sebenarnya kampanye teror adalah produk lama. Sama halnya ketika Unilever ingin menjual pepsodent-nya di Nusantara. Yang perlu dikomunikasikan, dulu hingga sekarang, adalah menciptakan satu ‘teror’. Penciptaan sebuah karakter yang bisa dipersepsi sebagai musuh bersama, yaitu plak dan karang gigi. Suatu pendekatan komunikasi ber-basis keuntungan kesehatan (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;health benefit&lt;/span&gt;). Karakterisasi musuh bersama ini menjadi senjata ampuh yang bisa dipakai, karena sikap solidaritas manusia sebagai mahluk sosial. Terutama pula budaya Indonesia yang konon selalu menjunjung kebersamaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ternyata dikotomi Barat dan Timur tidak selamanya membuat aman pikiran kita. Barat pun kini juga dilanda demam kebersamaan. Bersama untuk dibuat takut. Dan bersama untuk dipersepsikan sebagai manusia unggul yang memperoleh kebebasan (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;freedom&lt;/span&gt;) dan harus berjuang memberantas siapapun yang berusaha mengambil kebebasan itu dengan kuasa ketakutan. Terpatri jelas dalam marmer megah di Arlington dan Washington, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Fredoom Is Not Free&lt;/span&gt;. Kira-kira jiwa inilah yang terpaku juga di kalangan pemasar kontemporer, bahwa berjuang untuk membebaskan pikiran konsumen dari produk kompetitor, dan juga menjaganya, adalah tidak murah. Triliun rupiah dikucurkan sebagai belanja iklan. Promosi lini bawah terus digenjot, dan kadang perlu berjibaku untuk mendapatkan perhatian konsumen yang tidak loyalis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Teror di Sekitar Kita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kampanye liberasi terhadap mereka yang meng-oposisi kebebasan dipenetrasikan dengan gamblang dan kontinyu. Teror sesungguhnya tidak hanya melalui bom bunuh diri. Teror ada di mana-mana. Tengoklah sekeliling. Tak luput secara visual kita mengalami teror busana, teror belahan dada, teror sinetron punjabi, teror orasi Bu Mega, teror musik dan sebutkan teror lainnya. Apa yang baik diolah menjadi buruk. Dan perilaku buruk seolah ter-benarkan. Sangat bergantung dari sisi mana kita melihat dan akan berpihak. Inilah kampanye paling masif yang di alami masyarakat urban dengan konsumsinya. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Consumption ergo sum&lt;/span&gt;. Dan karena fesyen, gaya hidup, maka identitas pembeda kita ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kampanye Timur Tengah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa yang kita lihat saat ini di Timur Tengah? Perjuangan memenangkan sebuah pertarungan sesungguhnya bukan berdasar pada pergerakan Merkava dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Fighter Type-16&lt;/span&gt;. Bukan. Barang besi itu hanyalah alat, sebagai sebuah komunikasi lini bawah. Dimana mereka melakukan suatu demonstrasi produk berupa unjuk kekuatan fitur-fitur penyangga unggul dari Demokrasi Barat. Komunikasi sesungguhnya adalah penetrasi media barat dan pernyataan berulang Dan Gillerman bahwa ini adalah bagian dari Kampanye Perang Melawan Teror. Condi pun berkeliling bola bumi. Meyakinkan semua orang bahwa para moderat adalah idola yang harus dikirimi sms dukungan. Dan para pemilik label ekstremis adalah mereka yang harus disemprot diklorvos jika Perdamaian Yang Berkelanjutan ingin dicapai. Musuh bersama jelas telah tercipta. Belum dihitung dengan penetrasi posisioning bahwa bikini adalah lumrah, pakaian tertutup itu kebodohan dan pengekangan, prostitusi wajar asal legal, ekonomi tentu kuat jika tenaga kerja murah dijual pada negara maju (dengan dalih penanaman modal). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghancuran Gedung Sentra Perdagangan Dunia diposisikan sebagai pemicu efek domino akan perlunya sistematis penghancuran teror. Ketika kita berpikir sebagai seorang praktisi pemasaran, tentu suatu kebodohan jika kita tidak melakukan perencanaan komunikasi sebelumnya. Bahkan sangat jauh sebelumnya, bisa tahunan, kita sudah mulai mengumpulkan data, mengolahnya dan menerapkannya sebagai strategi penguasaan pasar. Bukan tidak mungkin strategi Kampanye Perang Lawan Teror ini pun telah direncanakan sebelumnya. Pengembalian para serdadu yang terculik hanyalah sebuah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;teaser&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Gimmick&lt;/span&gt; yang perlu diujicoba dan dilempar untuk menyenangkan sekaligus mengetahui reaksi pasar. Lalu kapan kedamaian dicapai? Hanya Tuhan semesta alam yang tahu.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Bin Laden, Marketer Of The Century&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tak berlebihan jika gelar Pemasar Abad ini perlu kita sanjungkan kepada Usamah, anak lelaki dari Ladin. Usamah yang konon adalah mitra strategis Bush, kini dihukum sebagai anak nakal yang tidak menjalankan kebijakan demi kepentingan perusahaan yang sama. Usamah layaknya Wings yang dulu mencicipi indahnya produk Unilever, kemudian kini mencoba untuk menyainginya. Komunikasi Perlawanan dan Perjuangan sebagai sebuah gaya hidup kini diminati mereka yang merasa penindasan dan ketidakadilan harus diakhiri. Perlawanan Smile Up terhadap Pepsodent menciptakan sebuah ‘teror’ baru. Teror gaya hidup yang mengusung fungsi sosial dari sebuah produk. Bahwa bau mulut dan ket-tidak segaran mulut adalah musuh bersama kaum urban yang merasakan banyak represi dari kalangan tua. Kita tidak tahu mulut siapa yang bau, Tapi itulah kata kunci yang diterapkan Smile Up yang mengikuti gaya Close Up karena sama-sama dipasarkan kepada generasi muda. Perlawanan dan Perjuangan juga menjadi kata kunci yang dipasarkan Usamah kepada kaum muda yang masih bergairah dan militan. Represi dari mereka yang berkuasa dan ber-adi kuasa harus ditentang demi sebuah keseimbangan. Hebatnya, Usamah tidak perlu mengeluarkan biaya triliunan untuk kampanye produknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya dengan modal kamera genggam, Kalashnikov tua dan orasi yang menggugah lewat internet, kini produknya digemari sekaligus dibenci di mana-mana. Dan disinilah keberhasilan sebuah kampanye komunikasi diukur. Ketika resistensi bermunculan, berarti komunikasi kita didengar. “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Yah&lt;/span&gt;, cinta dan benci kan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;beti&lt;/span&gt;. Beda-beda tipis. Sama-sama dipikirin &lt;span style="font-style:italic;"&gt;bow&lt;/span&gt;!”. Teriak penjaja syahwat tersegmentasi di Taman Lawang. Justru media barat lah yang dengan gencarnya memasarkan ‘teror’ ala Usamah dengan sukarela. Persepsi kita dibentuk, dan posisioning itu dimasukkan kepada konsumen global. Bahkan Usamah kini seolah menghasilkan ‘&lt;span style="font-style:italic;"&gt;flagship&lt;/span&gt;’ yang di’usung’ oleh Hamas dan Hizbullah. Dibawah satu ‘&lt;span style="font-style:italic;"&gt;umbrella&lt;/span&gt;’, teror. Walaupun Hamas dan Hizbullah memiliki legitimasi politis sesuai demokrasi ala Amerika, tapi mereka yang tidak segaris dengan kebijakan perusahaan harus dieliminasi. Lalu bukankah fantastis. Terima kasih kepada kampanye kompetitor, kini seolah produk Usamah memiliki dasar, premis, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;promise&lt;/span&gt;, dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;benefit&lt;/span&gt; yang kuat untuk memenangkan posisioning di benak logika kita. Atau setidaknya simpati kita akan siapa yang benar dan siapa yang salah mulai terusik. Tapi waspada juga harus dimiliki. Karena bisa jadi mereka ingin kita untuk berpikir seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tiap Karakter adalah Unik dan Beda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tentu menggerakkan massa untuk memerangi musuh bersama adalah mudah. Demi menghadapi tuntutan oposisi dan korupsi dalam negeri, Soekarno menciptakan Ganyang Malaysia. Demi menguatkan dukungan militer kepada posisi lemah Olmert yang sipil, maka IDF diberi mainan baru di tanah Lebanon. Namun bisa jadi teror yang dilabelkan kepada mereka yang memiliki pandangan yang tidak sama, justru malah akan semakin menguatkan keberadaan mereka. Pentingnya kita menyadari bahwa tiap karakter adalah beda, mulai dari terkecil individu hingga negara bangsa, adalah cara terbaik untuk memenangkan kompetisi. Bahwa dari informasi tumbuh pengetahuan. Dari pengetahuan terwujud pemahaman dan pengertian. Pemasaran Teror adalah fenomena unik dari abad informasi. Efektifitas dan kemampuan penetrasinya masih dibuktikan dengan uji lapangan yang terus terjadi hingga kini. Kelemahan yang harus dihindari dari Pemasaran Teror adalah bagaimana kita menemukan cara untuk menghentikan siklus aksi dan reaksi. Pemahaman baru yang muncul bagi dunia saat ini adalah untuk mulai mengerti kebutuhan penduduk bumi. Dan bagi praktek komunikasi, mengerti calon konsumen kita serta keinginan untuk mendengar adalah penekanan. Terutama jika kita bisa berbicara bahasa mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena teror sesungguhnya adalah ketika kita memaksakan apa yang kita anggap benar, kepada mereka yang tidak bisa menerimanya. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Homo Homini Lupus&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Man, is a wolf to a man&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adi Nugroho &lt;br /&gt;Art Director | Visual Communicator&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10223840-115405774517078741?l=boulevarditb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://boulevarditb.blogspot.com/feeds/115405774517078741/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10223840&amp;postID=115405774517078741' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10223840/posts/default/115405774517078741'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10223840/posts/default/115405774517078741'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://boulevarditb.blogspot.com/2006/07/terror-marketing_27.html' title='Terror Marketing'/><author><name>boulevard</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12894712547553283504</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10223840.post-113497942547565180</id><published>2005-12-18T23:59:00.001-08:00</published><updated>2005-12-19T00:23:48.126-08:00</updated><title type='text'>Fesyen, Prejudis, Hingga Infotainment : Birahi Kekerasan Psikologis</title><content type='html'>“Sebuah keluarga muda-kecil-bahagia memasuki gedung supermarket. Tampak sang ibu menggandeng anak pertamanya. Baru saja lulus Taman Kanak-kanak. Beberapa orang yang berpapasan tertegun melihat mereka. Sang Ayah, berambut layaknya sapu, jaket kulit, rantai dan dua tato ular di lengan setia menemani. Sepatu bot tentara tampak gagah dipakai. Ibunya setali tiga uang. Bahkan lebih warna-warni pada mahkotanya. Ketika berbelanja, sang anak berlarian dan hilang dari pandangan. Sempat mencari, akhirnya Ayah pun menangkap jagoan kecilnya. Sambil menggendong, ia berkata “Jangan jauh-jauh dari Ayah atau Ibu. Bisa-bisa kamu nanti diculik orang yang mengerikan”.”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guyonan ini sempat dimuat di sebuah majalah berbahasa inggris yang sudah ditransliterasikan menjadi bahasa Indonesia. Tersenyum? Mungkin bisa ironi. Fesyen memang telah menjadi sebuah identitas. Tapi konstruksi persepsi berdasar apa yang kita lihat, relasi visual penglihatan dengan apa yang pertama muncul di benak kita, telah mengalami pergeseran. Sejak awal memang ke-aku-an tak pernah muncul di komunitas komunal yang menghuni nusantara. Gotong royong, rame-rame, dan kebersamaan adalah sebuah spirit. Ketika fesyen sebagai identitas telah ditentukan secara sadar ke dalam diri kita sendiri, dan secara tidak langsung akan menggeser peran dan konsep komunitas komunal itu, bolehkah kita mengeluarkan prasangka? Adalah memang, secara psikologis, seseorang tidak mudah menerima apa yang tak ia ketahui sebelumnya. Waspada, sebuah mekanisme pertahanan diri sendiri. Begitu juga, sesuatu yang menjadi determinan akan menjauhkan dirinya dari rasa aman. Karena ia beda, maka ia tak sama. Walau secara peran, pria berdandan beda tadi adalah sama, sebagai seorang ayah yang melindungi kepentingan keluarganya, buah hatinya, putranya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia sosiologis, peran dapat diartikan sebagai sebuah set harapan budaya terhadap posisi tertentu. Kita dapat mengatakan peran pria tadi sebagai Ayah, jika dia menampilkan ‘identitas’ diri, kepribadian, perilaku verbal (berbahasa layaknya seorang ayah), non-verbal (tegas, bisa melindungi, bahasa tubuh dsb) seperti seorang ayah seharusnya. Sementara ‘identitas’ awal yang kita pahami adalah berdasar pada fesyen, tampilan visual yang dianutnya. Andreas Schneider mengungkapkan peran lebih mengacu pada harapan (roles refer to expected) dan tidak sekedar pada perilaku aktual. Juga bersifat normatif daripada sekedar deskriptif.  Harapan seorang anak, terhadap ayahnya, adalah menjadi seorang ayah. Yang melindungi, tegas dan memberikan rasa aman. Namun, apa harapan seorang ayah yang lain, ketika anaknya bertatap muka dengan sang pria rambut sapu tadi? Peran prasangka, akan bermain cukup kuat. Seorang aktor utama, prasangka tadi akan bisa berubah menjadi tingkat yang lebih tinggi. Diskriminasi, pelecehan, permusuhan, bahkan mungkin eksterminasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pendekatan sistem tanda, Umberto Eco sebagaimana dijelaskan oleh Yasraf (2003), mengatakan semiotika adalah berkutat pada segala sesuatu yang dapat digunakan untuk berdusta (lie). Bahwa pada prinsipnya satu bentuk representasi adalah sesuatu yang hadir namun menunjukkan bahwa sesuatu di luar dirinyalah yang dia coba hadirkan. Representasi dandanan beda dan rambut sapu dari sang pria tadi, adalah mungkin bentuk kesadaran, mungkin juga kebohongan. Tapi tak serta merta kita berhak untuk melabelinya sebuah teror. Fesyen dapat ber-relasi menjadi sebuah persepsi yang mungkin terdistorsi menjadi prasangka. Distorsi dalam komunikasi dan informasi visual. Seperti halnya dunia infotainment yang mulai meresap dalam pembicaraan hingga pemikiran manusia Indonesia mutakhir ini. Dimana pergunjingan akan sebuah peran seseorang dan konsekuensinya adalah lumrah untuk diketahui secara komunal. Pembenaran akan menjadi sebuah identitas yang akan sering dilihat, menjadi figur publik, serta merta memberikan justifikasi untuk mengorek kehidupan bahkan kepribadian seseorang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Penampilan, fesyen, imaji, persepsi dan ilusi tertuang menjadi bentuk budaya yang luar biasa mengakar pada masyarakat kosmopolitan pos-milenium dan pos-republik di nusantara kini. Simulakrum yang mentah menjadi guru, di-gugu dan di-tiru. Dipercaya dan ditiru. Bentuk-bentuk komunikasi dan informasi visual mudah dicari, dicerna dan diterima. Komunitas komunal yang dulu bertahan pada falsafah membangun bersama, kini menjadi komunitas komunal yang bertahan pada imaji dan identitas bohong yang sama, akibat konstruksi media massa visual. Infotainment pun seolah ingin unjuk gigi menjadi penyeimbang, berkata manis, penuh tawaran moral dan pesan ketimuran. Namun sungguh, ketika figur publik memiliki nilai guna, maka prasangka adalah komoditas. Ketika seorang Andhara Early hamil setelah diberitakan cerai dengan suaminya, seolah opini digiring. Andhara bermain selingkuh dengan pria lain. Zina. Sebuah tuduhan seram, seseram hukuman adat, dan agama yang ada. Begitupun Pingkan Mambo, yang tiba-tiba dititipi sebuah nyawa tambahan, persepsi terbentuk berdasar prasangka. Ada apa dengan Pingkan? Sudahkah ia menikah? Apakah memang itu lazimnya perilaku manusia berkostum panggung, erotik dan eksotis, menarik, rambut warna cerah, baju sobek, tonjolan seksi, cantik, indo, tampan, parlente, dan segala topeng karakter dunia hiburan? Bebas dari norma, dan bergaul sesukanya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas apakah memang seperti itu, kini main hakim sendiri tak cuma konsumsi preman dan kumpulan masyarakat bawah yang sakit secara ekonomi. Di tengah keluarga kita pun, di dalam diri kita pun, proses pengadilan telah terjadi. Berdasar apa yang kita tonton, dan mungkin secara sadar, kita pun mengamininya bahwa kita adalah hakim sekaligus jaksa. Ketika beda adalah sebuah hal yang kentara, waspada kita telah berubah menjadi sebuah eksekusi. Benar dan salah, kita leburkan dalam sebuah konflik, dan labeli dengan sebuah kemasan indah, ragam berita infotainment. Memang, itulah sebuah proses pendewasaan masyarakat verbal menjadi masyarakat visual. Masyarakat yang mulai berhobi tak lazimnya masyarakat timur. Kegemaran baru masyarakat bumi elok khatulistiwa ini tidak lagi berusaha membangun bersama. Tapi hanyalah menggilai birahinya untuk menuduh sesama, cuma berdasar pada prasangka. Lalu, bukankah itu sebuah bentuk kekerasan psikologis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adi Nugroho&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10223840-113497942547565180?l=boulevarditb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://boulevarditb.blogspot.com/feeds/113497942547565180/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10223840&amp;postID=113497942547565180' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10223840/posts/default/113497942547565180'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10223840/posts/default/113497942547565180'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://boulevarditb.blogspot.com/2005/12/fesyen-prejudis-hingga-infotainment.html' title='Fesyen, Prejudis, Hingga Infotainment : Birahi Kekerasan Psikologis'/><author><name>boulevard</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12894712547553283504</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10223840.post-113497982078549567</id><published>2005-12-18T23:59:00.000-08:00</published><updated>2005-12-19T00:14:47.926-08:00</updated><title type='text'>Konstruksi Keajaiban Unilever, Kebersamaan Merangkul Kebebasan Individu.</title><content type='html'>Mengamati cara bicara dan bahasa rupa dari sebuah iklan di Indonesia kadang menarik, kadang membosankan. Bahasa rupa dan tanda yang dipakai, cenderung hanya berdasar pada keinginan pasar tanpa ada terobosan berbicara yang layak dipandang sebagai pendewasaan masyarakat transisi oral-verbal menuju visual. Jelas iklan Indonesia tak bisa disamakan dengan iklan Amerika atau iklan barat. Kita beda. Komunitas kita memiliki karakteristik yang tak sama dengan mereka. Para londo itu menggilai seks, humor, menjunjung individualisme, liberalisme, hedonisme, dan konsumerisme. Para bumiputra menyenangi nongkrong, mangan ora mangan ngumpul, ketawa bersama, mistis, pergunjingan, dan kekeluargaan yang terdisorsi. Akhirnya kepada siapa kita berbicara? Tentu saja, masyarakat urban kosmopolitan Indonesia tak bisa lepas dari pengaruh kebiasaan londo yang mereka gampang cerna, ketahui dan amini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunitas urban adalah komunitas yang lebih terbuka, dan kadang bahkan tak sadar kenapa ia memilih sebagai orang yang terbuka. Kelompok komunal yang meleburkan gila seks, humor, individual, hedonis, konsumeris, tapi sekaligus nongkrong, penyuka mistis, bergunjing bersama, dan merasa memiliki rasa  kekeluargaan yang terdistorsi. Bagaimana berbicara dengan kelompok seperti ini? Unilever cukup jeli dan bisa menjadi menarik dalam menebak kondisi masyarakat banci ini. Setidaknya bisa kita lihat dalam kampanye iklan Lifebuoy, dan Rinso paling mutakhir. Lifebuoy dan Rinso bermain dalam tataran kebersamaan namun akhirnya juga menghargai kebebasan dan keterbukaan seorang individu. Lifebuoy, khususnya dalam kampanye anti jerawatnya berkata, “..anak muda terserah ingin melakukan apa saja. Tunjukkan keberanianmu, kebiasaanmu, kebisaanmu, siapa engkau dalam komunitasmu. Jika selama beraktifitas kemudian timbul jerawat, usah kau khawatir, serahkan urusan itu pada Lifebuoy..”. Ini bisa dilihat pada kampanye Jawara tak takut jerawat sabun Lifebuoy. Sementara Rinso dengan jinglenya yang sangat catchy dan mungkin akan stuck in your head, menampilkan kampanye Berani Kotor itu Baik. Dalam tampilan visualnya, iklan itu mengajarkan kita untuk bisa melihat dari sisi lain. Seorang anak yang ikut bermain kotor-kotoran, seorang pria yang ikut mendorong mobil mogok bersama temannya saat hujan becek, dan anak bersama kelompoknya berkubang di sawah. Apa yang kita lihat? Sebuah keinginan untuk melakukan sesuatu yang baik, atau hanya kekotoran yang akhirnya bisa menimbulkan penyakit? Dengan penutup berani kotor itu baik, maka Rinso seolah menjadi pahlawan layaknya Lifebuoy. Bermainlah, berkotor-kotorlah, setelah itu serahkan semuanya pada Rinso, dan juga Lifebuoy. Sebuah pilihan. Memilih, adalah bentuk perilaku individu. Freedom of choice, yet I already know whom I choose.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya memberikan kesempatan bagi target pasarnya untuk bebas melakukan aktifitas kebersamaan apapun, bahkan yang kotor sekalipun. Tapi ketika kembali ke urusan mencari pelindung dan pahlawan, maka secara samar kita diarahkan untuk memilih karakter hero idola yang membebaskan fansnya, namun ketika dibutuhkan ia akan sukarela menolong kita. Tanpa perlu mengomel. Tanpa perlu menggurui. Bagaikan keinginan remaja terhadap orangtuanya ketika puber tiba. Rinso dan Lifebuoy adalah sang Pahlawan Idola tadi. Semiotika yang dianut adalah menggabungkan kebersamaan dengan ujung kebebasan individual. Seks jelas tak mungkin masuk di sini. Tahapan bumbu seks terhadap produk yang bukan seksis di nusantara belum bisa dipahami secara komunal. Pun tentu bukan tanpa maksud kampanye ini, dengan tema yang mirip sama, diluncurkan dalam waktu yang hampir bersamaan. Keduanya produk unilever. Dan keduanya dapat saling menunjang dengan asas manfaat yang cukup sama. Kebersihan, dan juga kesehatan. Harapannya, keduanya akan dikonsumsi secara bersama pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adi Nugroho &lt;br /&gt;17400029&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10223840-113497982078549567?l=boulevarditb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://boulevarditb.blogspot.com/feeds/113497982078549567/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10223840&amp;postID=113497982078549567' title='20 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10223840/posts/default/113497982078549567'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10223840/posts/default/113497982078549567'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://boulevarditb.blogspot.com/2005/12/konstruksi-keajaiban-unilever.html' title='Konstruksi Keajaiban Unilever, Kebersamaan Merangkul Kebebasan Individu.'/><author><name>boulevard</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12894712547553283504</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>20</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10223840.post-113330794222078675</id><published>2005-11-29T15:38:00.000-08:00</published><updated>2005-11-29T15:45:42.236-08:00</updated><title type='text'>A Talk about Productivity and Globalism.</title><content type='html'>One of the weaknesses that Indonesian workforce has is its low productivity. Professor Richard Moore from California State University said that in relation to the cheap labor, the workforce tends to get wasted. In other countries such as America, they have minimum wages for worker.That way company will be selective for the kind of job they offer. For example, in Indonesia there are jobs such as coffee boys and chaffeur, but in other countries the cost to hire someone to do such job is too high that employees simply has to make their own coffee and drive their own car. He mentioned that the servant in Indonesia can make Rp.700.000/ month while a servant in California can make Rp.11.000.000/ month. Why? It’s all about productivity. Usually, what you earn reflect your productivity. One servant in California can serve more people compare to here and make more value at their workplace. Even if Indonesia have a minimum wages now, it will not work because the company will not earn enough to pay their employees. At the moment, companies in Indonesia are trying to find the cheapest labor and they will soon have to find another way to compete because the cost of labor are due to change and the only way go is increasing their productivity. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To be productive, there important factors to consider such as capital, infrastructure, management, and the quality of people. In term of the quality of the people, Professor Watson from Kent mentioned that there is a need for professionalism at al level in Indonesian workforce. He feels that in all levels of work people are not up to global standard therefore training for workers are needed. People have insufficient quality assurance, bad time management and there are low supervision in general. This is because many workers are recruited based on nepotism, have no motivation to do better in their job and low practical field. That way, again, proper training is definetely something that workers in all level need, because even people at top position of the company still have the lack of professionalism.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We also aware that globalization will affect our economy, so in term of it what will happen? Professor Moore said that theoritically and in term of productivity globalization is good, because company that produce the cheapest product will sell. For example, if China produce the cheapest motorcycle and America produce the cheapest software they simply have to buy from one another and therefore complete each other. But, he also added that it does not always work that way. Some might say that globalization perpetuates economic inequality based on system of complimentarity or make the poor country even poorer. But whether we agree or not, it already affects our economy and lock us into the global system.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So what can we do to survive in it? Professor Moore  mentioned that to be sucessful we need to keep learning and be innovative. The competition between workers will be very strict and the requirement of qualified and “productive” workers keep changing everyday. For instance, the ability of speaking English is a must for worker today, the next day it could be English and Mandarin. We need to be “updated” to every kind of technology and skill, because it is not a matter of surviving at work. It’s a matter of suceeding. We all want to be sucessful don’t we?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yuanita Christayanie&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Based on Interview with Professor Richard Moore and Professor C.W. Watson)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A published in SBM News, November 29th, 2005.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10223840-113330794222078675?l=boulevarditb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://boulevarditb.blogspot.com/feeds/113330794222078675/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10223840&amp;postID=113330794222078675' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10223840/posts/default/113330794222078675'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10223840/posts/default/113330794222078675'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://boulevarditb.blogspot.com/2005/11/talk-about-productivity-and-globalism.html' title='A Talk about Productivity and Globalism.'/><author><name>takestwototango</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10223840.post-113262710674242018</id><published>2005-11-21T18:34:00.000-08:00</published><updated>2005-11-21T18:38:26.753-08:00</updated><title type='text'>BREAKING NEWS!</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://boulletin.blogspot.com/"&gt;CLICK HERE..&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;and see for yourself..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;Apaan sih sok misterius gini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Blog Boul yang baru ini salah satu hasil dari Raker kemarin. Isinya murni untuk komunikasi, jadi tulisan-tulisan Didot tetep masuk blog yang ini aja ya.. :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10223840-113262710674242018?l=boulevarditb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://boulevarditb.blogspot.com/feeds/113262710674242018/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10223840&amp;postID=113262710674242018' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10223840/posts/default/113262710674242018'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10223840/posts/default/113262710674242018'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://boulevarditb.blogspot.com/2005/11/breaking-news.html' title='BREAKING NEWS!'/><author><name>18november</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='22' src='http://2.bp.blogspot.com/_FX_s2W7i3tQ/SUUCPYHt8mI/AAAAAAAAAR8/ImD0W2BpLtE/S220/2965248803_e0955d68c3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10223840.post-112939407975697702</id><published>2005-10-15T09:08:00.000-07:00</published><updated>2005-10-15T09:34:39.766-07:00</updated><title type='text'>Prasangka dan Keindahan Berpikir</title><content type='html'>Lagi-lagi prasangka. Sebuah penyakit sosial dan individu masyarakat Indonesia. Entah itu dikompori sinetron, &lt;em&gt;infotainment&lt;/em&gt;, atau bahkan gosip tetangga sebelah. Kronis, dan menular. Banyak yang berkata, itu adalah sifat dasar manusia. Dari prasangka berkembang menjadi imaji, dan timbullah stereotipe. Pandangan mengenai seseorang, sesuatu, memang dilihat dari apa yang ia lakukan. Namun, tak senaif dan sebodoh itu. Jika kita bisa berpikir anti negatif, maka dibalik apa yang terlihat, tersimpan sesuatu yang membuka mata. Tapi sekali lagi, tak semua orang dikaruniai keindahan berpikir, memaknai dan mempunyai kemampuan deduksi maksimal. Kadang, orang hanya ingin hidup di dunianya sendiri. Individual, namun hidup dalam masyarakat yang sangat sosial. Akhirnya, cari aman. Hindari konflik. Kultuskan individu. Tapi ketika ia mendapat kesempatan, pukul, tabrak, dan lari. Sepanjang itu tidak menyangkut dirinya, aman. "Boleh deh ngapain aja, asal ga nyenggol gue". Oportunis, pengecut, dan egois. Pola berpikir yang tidak dewasa, akhirnya selalu membenturkan keinginan pribadi dengan apa yang dihadapinya dalam kenyataan. Ia takut, dan, untuk membuatnya merasa aman dan nyaman, segumpal prasangka yang menampilkan sisi buruk lawannya muncul. Cari selamat, ia kuatkan prasangka tadi ke dalam kelompok besar, pergaulan, masyarakat, hingga mungkin negara. Konformitas muncul, tenang didapat. Perasaan selalu benar pun keluar. Superior, dan menanamkan inferior ke yang lain. Seakan hina, tak mau bekerjasama, dan hilanglah rasa kebersamaan. Pun, itu tak selamanya salah. Karena ia hanya mencari suaka. Ia tak tahu harus bersikap apa. Berpikir seperti anak kecil, dan ngotot dengan keinginannya, hingga tak acuhkan sekeliling. Salahnya adalah, kadang masyarakat kita kurang kesadaran. Kesadaran mengakui kesalahan, dan mengakui seseorang lebih baik dari kita. Dan kesadaran bahwa kita adalah mahluk sosial. Bukan segerombolan hipokrasi yang hanya mencoba menanamkan imaji dan prasangka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, lagi, banyak yang berkata itu sifat dasar manusia. Bahkan Tuhan pun menyadari itu, dan memasukkanya ke dalam bentuk kejahatan. Apakah manusia, kita, menyadarinya?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10223840-112939407975697702?l=boulevarditb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://boulevarditb.blogspot.com/feeds/112939407975697702/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10223840&amp;postID=112939407975697702' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10223840/posts/default/112939407975697702'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10223840/posts/default/112939407975697702'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://boulevarditb.blogspot.com/2005/10/prasangka-dan-keindahan-berpikir.html' title='Prasangka dan Keindahan Berpikir'/><author><name>boulevard</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12894712547553283504</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10223840.post-112361052135290502</id><published>2005-08-09T10:56:00.000-07:00</published><updated>2005-08-09T11:02:01.356-07:00</updated><title type='text'>Kembalinya WWW.BOULEVARD.OR.ID</title><content type='html'>Teman-teman, saya membuat tulisan singkat soal web Boulevard. Dapat di download untuk kemudian dibaca:&lt;a href="http://www.boulevard.or.id/wp-content/weblog-boulevard-article.pdf"&gt;Setelah Sekian Lama, Kembalinya WWW.BOULEVARD.OR.ID&lt;/a&gt; Tenang aja, cuma tulisan pendek kok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm... dengan kembali hidupnya www.boulevard.or.id, weblog yang ini (http://boulevard.itb.blogspot.com) dijadikan blog untuk diskusi informal-internal aja yaa....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10223840-112361052135290502?l=boulevarditb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://boulevarditb.blogspot.com/feeds/112361052135290502/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10223840&amp;postID=112361052135290502' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10223840/posts/default/112361052135290502'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10223840/posts/default/112361052135290502'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://boulevarditb.blogspot.com/2005/08/kembalinya-wwwboulevardorid.html' title='Kembalinya WWW.BOULEVARD.OR.ID'/><author><name>za</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='21' src='http://img.photobucket.com/albums/v237/zakiakhmad/za-top-of-merbabu.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10223840.post-112141476453895571</id><published>2005-07-14T23:55:00.000-07:00</published><updated>2005-07-15T01:06:04.546-07:00</updated><title type='text'>ganesha, sebuah anomali</title><content type='html'>"arogan dan tak bisa bekerjasama"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat, pernyataan, dan sebuah 'tonjokan', katakanlah, yang mafhum terlontar ketika berbicara mengenai lulusan institusi ganesha 10 bandung. Bahkan Kus, mantan rektor, telah berulang kali berkata seperti itu, curhat, hampir dalam berbagai kesempatan. Hingga ia 'menganjurkan', bahkan hingga 'mendorong' mahasiswa untuk gaul, gaul, dan gaul. Menjadi suatu pertanyaan, apakah memang alumni kita seperti itu? Sebelum sebuah kata "tanyakanlah pada diri anda sendiri" tampil di tulisan ini, sebuah pemahaman mengenai lingkungan, dan geo-sosio-politik tempat anda berada harus disadari lebih dulu. Maksudnya? Begini, hampir selama kita belajar, mengenal sebuah lingkungan sosial paling kecil hingga akhirnya kita menimba ilmu pada bangku pendidikan -dasar hingga atas-, satu hal yang selalu ditanamkan adalah sebuah nilai moral bernama kekeluargaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu, memang itu tidak salah. Itu bagus, sangat bagus, hingga akhirnya terjadilah sebuah pengkultusan. Distorsi dan disorientasi terjadi. Secara teratur dan sistematis, pemerintahan Republik Indonesia dengan restu dan pemikiran Soeharto, Nasution, Amir Mahmud, dkk, terjerumus kedalam sebuah sistem yang sangat militeristik. Bagaimana tidak, secara struktural, pemerintahan sipil memiliki garis komando. Mulai terkecil RT/RW, hingga MPR/DPR. Memang, itupun juga tidak salah. Tapi ketika berbicara keamanan, maka, unsur 'kekeluargaan'lah yang berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Kekeluargaan'? Jangan lupa pada tingkat terkecil pun, ada yang namanya Hansip dan Babinsa. Apakah ini berarti unsur militer mencampuri urusan sipil? Demi tercapai stabilitas kebijakan politik, pada tingkat regional seperti kota atau kabupaten, dan propinsi terdapat yang namanya Muspida. Musyawarah Pimpinan Daerah. Walikota atau Gubernur, harus melakukan rapat dengan Muspida, dimana di dalamnya terdapat unsur Kepala Polisi, dan Komandan Militer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekeluargaan, dalam sebuah lingkungan sipil, masih memerlukan unsur militer? Bukankah seharusnya, dalam satu daerah, kepala polisi dan kepala militer berada di bawah kepala daerah. Karena mereka adalah unsur keamanan, bukan untuk membuat kebijakan, &lt;em&gt;policy&lt;/em&gt;, atau tidak lain bukan untuk ber'politik'. Yang lebih menggelikan lagi, sebagai contoh, dalam sistem kepegawaian pegawai negeri, terdapat yang namanya Dharma Wanita. Sebuah perkumpulan bagi istri pegawai negeri, seperti halnya persatuan istri tentara. Dibalik seabrek kegiatan jalan-jalan keluar negeri dan program tidak jelas lainnya, sebuah hal menarik mengenai eksistensi istri dalam Dharma Wanita, berpengaruh besar terhadap posisi, jabatan dan kepangkatan sang suami. Kasarnya, hati-hatilah suami, ajarilah istri anda untuk aktif, sopan, dan &lt;em&gt;manut&lt;/em&gt;, dalam dharma wanita, atau karier anda mandek. Lagi-lagi, sebuah kekeluargaan memang. Namun, karena 'kekeluargaan' tadi, maka penilaian terhadap satu orang tidak akan berdasar pada kapabilitas, intelegensia, dan apa yang dapat ia sumbangkan pada negara, namun pada sebuah 'nilai kekeluargaan' yang berdasar pada sistem dan norma sosial. Itulah sebab, orang-orang pintar di negeri ini, tidak mungkin untuk memberikan kontribusi berharga bagi perbaikan bangsa, karena, jika anda tidak memiliki 'kekeluargaan', maka anda tidak mungkin masuk ke sistem yang ada. Kesempatan individu tidak akan diberikan tempat bagi sebuah lingkungan yang menganut 'politik kekeluargaan'. Tidak ada kompetisi, dan tidak ada kesempatan untuk menunjukkan apa yang terbaik dari kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Kekeluargaan' bercampur dengan 'komando'. Komando berarti terdapat jenjang, status, dan strata. Gampangnya, senioritas. Tunduk dan patuh pada yang berada lebih di atas. Dan yang di atas, akan selalu menganggap remeh yang di bawah. Tidak ada dialektika, diskursus, dan transfer ilmu masih berdasarkan sistem guru, (jw) &lt;em&gt;di-gugu lan di-tiru&lt;/em&gt; (di turuti dan di tiru). Dan parahnya, hal ini juga berlaku sebagai sistem 'sosial masyarakat' di lingkungan pendidikan tinggi. Kampus, dengan arogansi himpunan, dan metode orientasi studinya. Sekali lagi, potensi individu yang ada tidak dapat maksimal, karena hilangnya kesempatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, ketika label "arogan dan tidak bisa bekerja sama" mengikuti brand image tiap lulusan ganesha 10, apakah berarti kita memang benar-benar arogan, tidak tahu diri, dan sombong bisa mengalahkan siswa sma manapun, bisa mengenyam pendidikan dengan prestise dan nama besar institusi akademis, ataukah kita hanyalah sebuah anomali dari sebuah sistem yang menganut pada 'politik kekeluargaan' tadi, dimana kita masih menghargai dan tidak memandang remeh kapabilitas dan potensi dari tiap individu, dan kita masih bisa berdebat, sejajar, dan menghilangkan status dan strata yang ada di antara kita, dengan mengakui kelemahan, terbuka akan hal-hal baru, namun juga sekaligus berproses dalam melakukan transfer ilmu, dan pengetahuan karena pengalaman kita yang lebih dulu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anomali, yang mungkin tidak akan bersemayam, dalam jiwa seorang yang berhenti berproses, seorang yang berkata "sudah dan ya", seorang yang tidak berani berkata "tidak", dan seorang yang mengagungkan kebersamaan, namun mengkultuskan individu, mencapai keberanian dan keberhasilan atas sesuatu yang dipaksakan, bukan sebagai sebuah pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adi Nugroho&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10223840-112141476453895571?l=boulevarditb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://boulevarditb.blogspot.com/feeds/112141476453895571/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10223840&amp;postID=112141476453895571' title='14 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10223840/posts/default/112141476453895571'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10223840/posts/default/112141476453895571'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://boulevarditb.blogspot.com/2005/07/ganesha-sebuah-anomali.html' title='ganesha, sebuah anomali'/><author><name>boulevard</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12894712547553283504</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>14</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10223840.post-111812257454622496</id><published>2005-06-06T22:31:00.000-07:00</published><updated>2005-06-06T22:36:14.553-07:00</updated><title type='text'>Kus: Saya Tidak Surprised Menjadi Menteri</title><content type='html'>&lt;em&gt;Kusmayanto Kadiman kembali mencatat sejarah. Rektor pertama di era BHMN ini malah berhenti di tahun ketiga-nya untuk kemudian menjadi menteri. Apa yang terjadi? Mengapa ia memilih menjadi menteri? Simak penuturannya kepada wartawan Boulevard ITB Ikram Putra.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bagaimana perasaan Anda, menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Hampir nggak ada perubahan tuh. Sama seperti pada November 2001. Orang-orang bertanya: bagaimana rasanya jadi rektor? Nggak ada, biasa aja tuh.&lt;br /&gt;Itu semua kan bukan sesuatu yang dropped from the sky.  Karena dia bukan ujug-ujug (tiba-tiba, red), makanya tidak ada perubahan yang dramatis. Mungkin ini terdengar sebagai pembenaran. Memang saya berupaya menjadi menteri. Iyalah, namanya juga manusia, tendensinya membuat dirinya tumbuh dan naik terus.&lt;br /&gt;Saya tidak begitu surprised karena sebelumnya saya juga sering bertemu dengan tim sukses Susilo Bambang Yudhoyono. Tapi saya juga ketemu dengan tim sukses Mega. Itu posisi yang saya mainkan, supaya ITB aman. Dia menjadi dekat dengan semua pihak, dan membuat equidistance kepada semua pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kapan sering bertemu dengan tim sukses calon presiden?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Menjelang pemilihan presiden putaran kedua. Saya banyak mendekati mereka, mengundang berkampanye di kampus. Saya terpaksa, karena pendekatan-pendekatan biasa itu sulit sekali. Mereka-mereka itu kan punya barikade yang luar biasa. Nah itu harus ditembus dengan cara-cara yang tidak biasa. Pak Aryo (Ir.Aryo Wibowo, Ketua Satgas Pemilu ITB—red) saja, otorisasinya tidak cukup kuat untuk menembus barikade itu. Nah, saya merasa punya network yang suka aneh-aneh. Dari preman sampai menteri. Saya juga punya legalitas sebagai rektor ITB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apakah Anda tidak sadar, jika Anda merapat terus, bisa-bisa dijadikan menteri?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Celetukan dari beberapa bilang, “Kus, mereka pasti mencari profesional. Sedangkan Anda itu figur yang profesional, netral dan nonpartisan. Dia pasti butuh,”. Di kancah Indonesia sekarang, orang seperti saya ini katanya langka. Artinya yang berjuang tanpa membawa kepentingan pribadi atau golongan. I’m a soloist lah, dalam hal ini. Walaupun tidak semuanya benar.&lt;br /&gt;Saya mulai merasa bahwa saya akan diajak, begitu mereka mulai minta “Pak Kus, tolong tuliskan selembar-dua tentang pemikiran Anda tentang education, telecommunication,”. Mereka berdalih ini untuk memperkaya pidato-pidato saat mereka kampanye. Ada dong, firasat “aku sedang diincar, nih” atau sedang di-talent scout. Okelah, I do my best. Dan di bidang-bidang yang saya mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tapi tetap, ada keterkejutan publik ketika Anda muncul di Cikeas…&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Beberapa kalangan kecil yang mengetahui gerakan saya sih bilang tidak aneh. Nah, karena itu beberapa kali saya sering—dengan gaya bercanda saya—mengatakan: mimpi kali yee? Itu untuk menenangkan mereka bahwa saya tidak bermain aneh-aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Memangnya seaneh apa sih permainan Anda?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Saya hanya tuliskan singkat tentang pembentukan departemen baru. Kemudian saya usulkan juga, kepedulian saya akan dunia telekomunikasi Indonesia. Saya mengatakan bahwa kontribusi Information and Communication Technology terhadap pendapatan negara kecil sekali. Kita lakukan kajian disini.  Saya juga menyoroti inefisiensi penggabungan antara content dengan infrastruktur. Apalagi dengan diletakkannya telekomunikasi di bawah Departemen Perhubungan. Itu kan aneh. Saya mengusulkan telekomunikasi dimasukkan ke Kementrian Informasi dan Komunikasi, yang selama ini hanya content—itu pun menjadi corong pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dengan begitu banyaknya ide-ide tentang hal-hal tadi, mengapa Anda masih mengatakan belum mengetahui benar mengenai seluk-beluk Riset dan Teknologi?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Saya lebih suka to deliver beyond my promise ketimbang under. Makanya nggak usah cerita yang aneh-aneh lah. Mending ABG (Academicians, Businessmen, Government—red.) dulu deh. Konsep-konsep yang sederhana.&lt;br /&gt;Itulah mengapa agenda hari pertama saya tidur. Karena memang capek sekali. Orang-orang kan sudah ada di Jakarta, sedangkan saya masih di Bandung. Mengantuk sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Adang Surahman ditetapkan menjadi pejabat sementara rektor dalam dua bulan ke depan sampai terpilihnya rektor baru…&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Itu aneh. Itu melanggar siklus kita yang lima tahunan. Menurut saya, angkat saja untuk menghabiskan waktu. Yang saya harapkan itu biarkan saya sebagai rektor—bukan berarti saya pencinta jabatan, namun menjaga kekompakan tim. Memang melanggar PP 155/2000, tapi jika kita kompak semua, nggak melanggar dong namanya. Sampai Desember saja, saya hanya menjalankan kelangsungan operasi. No new  big policy. Bersamaan dengan itu, silakan mereka memproses pemilihan rektor.&lt;br /&gt;Tim saya sekarang ini kompak sekali. Begitu saya mundur, mereka juga mau mundur. Mereka bilang, “Buat apa? Kita kan kontraknya sama elo, bukan MWA”. Tapi, itu masih dibicarakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ternyata rektor pertama di era otonomi hanya menjabat selama tiga tahun...&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Yah, sebelum saya mengatakan: yak! gua mau jadi menteri!, itu sebenarnya pilihan yang berat sekali. Kalau saya tidak jadi menteri, beratnya itu adalah saat jabatan saya habis pada 2006. Terus gua mau jadi apa? Board challenge. Saya akan langsung pindah ke Eropa. Saya akan memimpin sebuah taskforce on Asia di European Commission, karena pengalaman internasional saya juga luar biasa banyak. Tapi, is that really what I want? Sementara 2004 ini kesempatan emas untuk go national.&lt;br /&gt;Di sisi lain, ITB itu bayi saya, my cute baby, yang baru saja belajar merangkak. Nah, jika ditinggalkan bagaimana? Proses tarik-ulur ini cukup lama. Sampai teman-teman saya mengirim sms, bertanya “masih sakit perut?” karena mereka paham.&lt;br /&gt;Kalau saya tidak ambil kesempatan menjadi menteri saat ini, saya harus menunggu sampai 2009. I’ll be too old already. Lantas ada vakum dari 2006 sampai 2009. Itu pilihan-pilihan yang ada. Sementara kawan-kawan bilang, “Take it! The country needs you! Kalau nggak, nanti para politikus dan para pedagang saja yang ada disitu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bagaimana dengan Anas Hanafiah, yang mengaku memiliki raport merah Anda?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Lagu favorit saya adalah Forgiven Not Forgotten dari The Corrs. Saya mudah memaafkan, tapi butuh waktu untuk melupakan. Personally, I have nothing.&lt;br /&gt;Saya nggak tahu apa maunya Anas. Dia bilang dia nggak pernah ketemu saya, padahal kita pernah ketemu di sini three hours on Sunday. Dulu pertama kali saya sempat ngambek sama dia. “Gila, ini anak maunya apa sih?”. Saya sempat berhubungan harmonis dengan KM—zamannya Alga Indria. Memburuk dengan Ahmad Mustofa, karena kalau berbicara sama dia sering tulalit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ada semacam lembaran pertanggungjawaban selama menjadi rektor?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Oh, harus. Tapi sebenarnya gampang. Karena tiap tahun kami sudah bikin laporan. Jadi mudah, saya hanya menyusun laporan dari Januari sampai 21 Oktober.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apa harapan untuk ITB ke depan?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Kelangsungan transformasi dan operasi, yang sudah well-documented, itu dijalankan. Pegangannya apa, yaitu Rencana Kerja dan Anggaran 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Wawancara di atas dimuat pada Boulevard edisi 50, November 2004&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10223840-111812257454622496?l=boulevarditb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://boulevarditb.blogspot.com/feeds/111812257454622496/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10223840&amp;postID=111812257454622496' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10223840/posts/default/111812257454622496'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10223840/posts/default/111812257454622496'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://boulevarditb.blogspot.com/2005/06/kus-saya-tidak-surprised-menjadi.html' title='Kus: Saya Tidak Surprised Menjadi Menteri'/><author><name>GPS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11687922212945130509</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10223840.post-111763676013915224</id><published>2005-06-01T07:29:00.000-07:00</published><updated>2005-06-01T07:39:20.180-07:00</updated><title type='text'>Cover Boulevard Digital</title><content type='html'>Cover Boulevard digital, beberapa edisi bisa diakses di album foto &lt;a href="http://boulevarditb.blogs.friendster.com/photos/cover/"&gt;friendster Boulevard&lt;/a&gt;. Habis belum jalan-jalan web www.boulevard.or.id Sampai saat ini baru edisi-edisi diatas yang sudah ter-digitalisasi. Silahkan kunjungi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boulevard, Go Digital!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10223840-111763676013915224?l=boulevarditb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://boulevarditb.blogspot.com/feeds/111763676013915224/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10223840&amp;postID=111763676013915224' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10223840/posts/default/111763676013915224'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10223840/posts/default/111763676013915224'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://boulevarditb.blogspot.com/2005/06/cover-boulevard-digital.html' title='Cover Boulevard Digital'/><author><name>za</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='21' src='http://img.photobucket.com/albums/v237/zakiakhmad/za-top-of-merbabu.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10223840.post-111586173923621121</id><published>2005-05-11T18:07:00.000-07:00</published><updated>2005-05-11T18:41:09.996-07:00</updated><title type='text'>ANUGERAH INSAN BOULEVARD 2005</title><content type='html'>Penghargaan tertinggi kepada insan boulevard telah digelar hari rabu tanggal 4 mei 2005. sebanyak 96 suara telah masuk untuk 6 kategori. dan ini lah pemenang-pemenangnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbitan Terbaik : Boulevard 50, november 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis Terbaik : Ikram Putra Nasution, GM'02&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perusahaan Terbaik : Aji Gautama Putrada, EL'03&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artistik Terbaik : M. Irfan Assaat, DKV'01&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Newcomer Terbaik : Batari Saraswati, TI'04&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alumni Terbaik : Adi Nugroho, DKV'00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat kepada para pemenang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10223840-111586173923621121?l=boulevarditb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://boulevarditb.blogspot.com/feeds/111586173923621121/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10223840&amp;postID=111586173923621121' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10223840/posts/default/111586173923621121'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10223840/posts/default/111586173923621121'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://boulevarditb.blogspot.com/2005/05/anugerah-insan-boulevard-2005.html' title='ANUGERAH INSAN BOULEVARD 2005'/><author><name>GPS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11687922212945130509</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10223840.post-111357717243178792</id><published>2005-04-15T07:54:00.000-07:00</published><updated>2005-04-15T07:59:32.433-07:00</updated><title type='text'>Rapat Redaksi 52 #2</title><content type='html'>Judul diatas dibacanya Rapat Redaksi edisi 52 yang kedua yah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rapat redaksi kali ini dimulai pukul 19.00, setelah yang muslim melaksanakan sholat maghrib. Berlaku sebagai pemimpin rapat adalah pemimpin redaksi, Maya Irawati. Sang Pemimpin Umum, AJI GPS, datang terlambat dengan alasan tidak jelas. Ada beberapa topik yang hilang, sementara topik yang lain berusaha lebih diperuncing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka-mereka yang datang pada rapat kali ini adalah: Irfan, saya, Ikram, Aji, Maya, Ani, Batari, Yasmin, Dito, hmmm..siapa lagi yah. Buka notulen manual aja deh. :P&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10223840-111357717243178792?l=boulevarditb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://boulevarditb.blogspot.com/feeds/111357717243178792/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10223840&amp;postID=111357717243178792' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10223840/posts/default/111357717243178792'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10223840/posts/default/111357717243178792'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://boulevarditb.blogspot.com/2005/04/rapat-redaksi-52-2_15.html' title='Rapat Redaksi 52 #2'/><author><name>za</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='21' src='http://img.photobucket.com/albums/v237/zakiakhmad/za-top-of-merbabu.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10223840.post-111280970570392798</id><published>2005-04-06T10:38:00.000-07:00</published><updated>2005-04-06T10:48:25.703-07:00</updated><title type='text'>Akan Datang, Edisi 52</title><content type='html'>Kami baru saja melaksanakan rapat perencanaan malam ini. Muncul beberapa masukan isu untuk edisi 52, antara lain soal Presiden KM (Aji), Lembaga Penelitian ITB (Maya), Campus Center (Principia), Sampah (Batari dan Yasmin), Kebiasaan Mencontek (Fardani), Mobil Goyang (Jofardhan dan Yuanita), dan Mahasiswa Asing di ITB (Ikram dan Ika).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini ada perbedaan: tiap penulis dibebaskan menulis sesuatu yang disukainya. Pekan depan kami akan menggelar rapat redaksi guna menyaring proposal liputan mana saja yang lulus dari seleksi Maya, sang Pemimpin Redaksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kami berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat Kata Karsa dan Karya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10223840-111280970570392798?l=boulevarditb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://boulevarditb.blogspot.com/feeds/111280970570392798/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10223840&amp;postID=111280970570392798' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10223840/posts/default/111280970570392798'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10223840/posts/default/111280970570392798'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://boulevarditb.blogspot.com/2005/04/akan-datang-edisi-52.html' title='Akan Datang, Edisi 52'/><author><name>ikram</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://ikramputra.googlepages.com/avatarikram.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10223840.post-111022152932979182</id><published>2005-03-07T10:43:00.000-08:00</published><updated>2005-03-07T10:52:09.336-08:00</updated><title type='text'>Bertepuk Sebelah Tangan</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 6pt"&gt;&lt;em&gt;Edaran Wakil Rektor Kemahasiswaan Tak Dihiraukan Mahasiswa&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 6pt"&gt;Oleh Aji GPS dan Ikram Putra&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 6pt"&gt;WIDYO Nugroho resah. Baru 22 hari menjadi Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, ia sudah dihadapkan pada wisuda mahasiswa. Acara ini, seperti biasa, bakal diwarnai dengan tradisi arak-arakan yang rentan memicu tawuran antarhimpunan mahasiswa.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 6pt"&gt;“Destruktif,” kata Widyo tentang kegiatan pawai wisuda khas mahasiswa ITB itu.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 6pt"&gt;“Anda tahu, acara wisuda adalah kegiatan yang berbiaya tinggi,” sambungnya. Ada dosen yang me-ngawasi agar tidak tawuran, banyak sampah berceceran, &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 6pt"&gt;Sadar dirinya adalah pendidik, Widyo tak mau tinggal diam. Ia lantas mengirim surat edaran kepada himpunan-himpunan mahasiswa dan unit-unit kegiatan mahasiswa untuk “mem-perhatikan dan menghindari hal-hal berikut”.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 6pt"&gt;Jangan arak-arakan baik di dalam kampus maupun di luar... Jangan menggunakan kendaraan berat... Jangan menutup jalan, mengeluarkan kata-kata kotor, serta berkelahi/tawuran.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 6pt"&gt;Buat mereka yang merayakan wisuda secara baik, tertib, indah, dan kreatif, ada hadiah. Rayakanlah dengan tertib, wajar, dan tidak berlebihan.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 6pt"&gt;Tak lupa, akan ada sanksi bagi mereka yang melanggar.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 6pt"&gt;Surat itu bernomor 321/K01.04/KM/2005 dan bertanggal 4 Maret 2005. Alias, sehari sebelum acara wisuda berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 6pt"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 6pt"&gt;LANGIT cerah. Matahari bersinar lumayan terik. Siang itu di Sasana Budaya Ganesha, acara wisuda baru saja usai. Di pelataran parkir, manusia berjubel. Ada pedagang kaki lima, tukang foto keliling, dan keluarga mahasiswa yang menunggu para wisudawan keluar.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 6pt"&gt;Puluhan mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain menanti di dekat pintu utama. Dengan mengenakan kostum bebek dan koki, mereka menyambut para wisudawan dari FSRD. Mereka meneriakkan yel-yel dengan iringan genderang. Mereka cukup menyedot perhatian sekeliling.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 6pt"&gt;Saya berdiri di sana. Saya melihat kumpulan mahasiswa Himpunan Mahasiswa Elektroteknik menyambut para wisudawan mereka. Yang laki-laki meloncat ke atas truk. Yang perempuan, dibantu pijakan dari tangan. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 6pt"&gt;Arak-arakan kemudian dimulai. Himpunan Mahasiswa Sipil, Himpunan Mahasiswa Elektroteknik, Keluarga Mahasiswa Penerbangan, adalah sebagian mereka yang terlihat membawa wisudawan mereka menuju Gerbang Ganesha dengan sebuah pemandangan klise: wisudawan bergelantungan di truk bagaikan koboi memberi semangat kepada adik-adik mereka yang berjaket himpunan—yang mengawal dengan barisan di depan.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 6pt"&gt; Dalam antrian kendaraan yang mengular, seorang supir angkutan kota bercerita pada saya, dirinya tak mengapa dengan kemacetan dadakan itu.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 6pt"&gt;“Dimana-mana juga macet kok,” kilahnya.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 6pt"&gt;Suasana jadi mirip karnaval jalanan. Saya heran. Adakah mahasiswa membaca edaran Widyo itu?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 6pt"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 6pt"&gt;“ARAK-arakan ini kan udah dipersiapkan dari jauh hari. Kalau dibatalin, mau apa lagi isinya?” komentar Prima, mahasiswa Teknik Industri angkatan 2003.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 6pt"&gt;Anggapan senada saya jumpai pula pada Fitra, seorang mahasiswa Teknik Material. Fitra bercerita, karena edaran datang mendadak, ia tetap tak bisa mengubah apa-apa—semua sudah direncanakan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 6pt"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 6pt"&gt;DUA hari kemudian, pada pukul 12.30 saya datang ke ruangan Widyo Nugroho di Lembaga Pengembangan Kesejahteraan Mahasiswa. Sambil sibuk mencatat sesuatu, ia mempersilakan saya duduk. Di mejanya ada tumpukan kertas dan buku.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 6pt"&gt;“Terimakasih, Anda berminat mengangkat soal edaran ini,” ucapnya.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 6pt"&gt;“Edaran itu tak digubris. Apa komentar Anda?” &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 6pt"&gt;Widyo menampik. “Jangan dibilang tak digubris,”&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 6pt"&gt;Dari perspektifnya, Widyo melihat dirinya sudah berupaya mencegah budaya arak-arakan, serta tawuran yang “destruktif” tadi. Ia tak bermasalah jika edaran itu bertepuk sebelah tangan. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 6pt"&gt;“Undang Undang Anti Korupsi saja, yang berskala nasional, juga tak digubris,” ia memberi analogi. Yang penting, kata dosen Teknik Geodesi ini, edaran adalah sebuah titik awal pelaksanaan pembenahan. Ia pun tak akan menimpakan sanksi bagi para himpunan yang tidak menghiraukan edarannya. Soalnya, sanksi yang khusus mengurusi soal wisuda itu belum ada.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 6pt"&gt;Ia menilai edaran itu cukup berhasil, karena tak ada tawuran yang terjadi.Widyo berencana mengumpulkan para ketua himpunan untuk mempertanyakan pentingnya merayakan wisuda dengan arak-arakan.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 6pt"&gt;Mengapa tak melakukannya dari dulu, jauh sebelum mengeluarkan edaran?&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 6pt"&gt;“Tak ada waktu,” jawab Widyo, tersenyum. [] &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10223840-111022152932979182?l=boulevarditb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://boulevarditb.blogspot.com/feeds/111022152932979182/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10223840&amp;postID=111022152932979182' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10223840/posts/default/111022152932979182'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10223840/posts/default/111022152932979182'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://boulevarditb.blogspot.com/2005/03/bertepuk-sebelah-tangan.html' title='Bertepuk Sebelah Tangan'/><author><name>ikram</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://ikramputra.googlepages.com/avatarikram.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10223840.post-110987292313707519</id><published>2005-03-03T10:00:00.000-08:00</published><updated>2005-03-03T10:02:03.140-08:00</updated><title type='text'>Kelas Redaksi 1</title><content type='html'>Silakan datang ke Boul pada jam 5 sore, hari ini. Akan ada kumpul reguler, setelah itu ada kelas redaksi (workshop lanjutan). Wajib bagi staf redaksi, dianjurkan bagi staf non redaksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembicara: Yandhrie Arvian, TEMPO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terimakasih.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10223840-110987292313707519?l=boulevarditb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://boulevarditb.blogspot.com/feeds/110987292313707519/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10223840&amp;postID=110987292313707519' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10223840/posts/default/110987292313707519'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10223840/posts/default/110987292313707519'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://boulevarditb.blogspot.com/2005/03/kelas-redaksi-1.html' title='Kelas Redaksi 1'/><author><name>ikram</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://ikramputra.googlepages.com/avatarikram.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10223840.post-110836172342136098</id><published>2005-02-13T22:09:00.000-08:00</published><updated>2005-02-13T22:15:23.420-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;p align="center"&gt;&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v601/bandrex_5/968723376990l.jpg" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;TELAH BEREDAR!!! BOULEVARD ITB EDISI 51. SEGERA DAPATKAN DI GERBANG GANESHA, DAN SALES TERDEKAT!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10223840-110836172342136098?l=boulevarditb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://boulevarditb.blogspot.com/feeds/110836172342136098/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10223840&amp;postID=110836172342136098' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10223840/posts/default/110836172342136098'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10223840/posts/default/110836172342136098'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://boulevarditb.blogspot.com/2005/02/telah-beredar-boulevard-itb-edisi-51.html' title=''/><author><name>ikram</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://ikramputra.googlepages.com/avatarikram.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10223840.post-110744569065003219</id><published>2005-02-03T07:43:00.000-08:00</published><updated>2005-02-03T07:48:10.650-08:00</updated><title type='text'>Menyudahi Kekerasan, Bisakah?</title><content type='html'>Menurut Hatta, bangsa kita adalah bangsa yang kuat sebagai seorang pelaut dan petani. Dengan kata lain, bangsa kita sebenarnya memiliki karakteristik yang kuat untuk menjadi bangsa kuat dan ekspansionis. Namun seberapa besar kita mencintai tanah dan laut kita? Ini pula sebabnya, kenapa bangsa kita selalu menonjolkan kekerasan. Karena, menurut saya, sifat ekspansionis tadi dipojokkan, dihilangkan, dan diredam sejak industrialisasi dan kolim (kolonialisme dan imperialisme) Belanda, hingga Orde Baru. Dan, seperti orang Jawa, orang Indonesia terbentuk oleh sistem untuk menjadi orang yang penyayang, penyabar, dan gotong-royong, dengan memendam rasa ekspansionis itu tadi. Dan energi yang dipendam cukup lama, dapat muncul sewaktu-waktu dengan menggelora dan tidak terkontrol karena tidak pernah tersalurkan pada tempatnya. Kapan bangsa kita bisa sadar, bangkit, dan menyudahi ketertinggalan dan keterbelakangan karena selalu berbicara dengan tangan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adi Nugroho&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10223840-110744569065003219?l=boulevarditb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://boulevarditb.blogspot.com/feeds/110744569065003219/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10223840&amp;postID=110744569065003219' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10223840/posts/default/110744569065003219'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10223840/posts/default/110744569065003219'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://boulevarditb.blogspot.com/2005/02/menyudahi-kekerasan-bisakah.html' title='Menyudahi Kekerasan, Bisakah?'/><author><name>boulevard</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12894712547553283504</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10223840.post-110718668339085588</id><published>2005-01-31T22:55:00.000-08:00</published><updated>2005-01-31T07:53:33.526-08:00</updated><title type='text'>Tiada kesunyataan tanpa pengorbanan, Empirisisme nasibmu kini.</title><content type='html'>Ketika pengorbanan mengalahkan ego dan kepentingan, maka kenalilah dirimu sendiri dan yakinkan jika itu memang cita-cita. Mengalami erosi dan pasang surut, begitu pula perjalanan kita mengenal spesies manusia lain sebagai mahluk sosial. Dan ketika kita mengenalnya, pergulatan sebuah bentuk komunikasi adalah jembatan yang harus dibangun membentang lintas pasifik. Terjangan badai, ombak dan pusaran arus kadang membuat kita mengalah, untuk mengambil sebuah jenak, beristirahat. Kala persinggungan tiba, dari yang satu dan besar, apakah bentuk hegemoni lalu menganeksasi ego dan kepentingan kita? Maka, ia yang belajar dari sebuah pengalaman, mengalami kesunyataan diri yang abadi. Empirisisme adalah kunci. Dan ego kita adalah pintu yang selalu siap untuk terbuka lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17400029&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10223840-110718668339085588?l=boulevarditb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://boulevarditb.blogspot.com/feeds/110718668339085588/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10223840&amp;postID=110718668339085588' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10223840/posts/default/110718668339085588'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10223840/posts/default/110718668339085588'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://boulevarditb.blogspot.com/2005/01/tiada-kesunyataan-tanpa-pengorbanan.html' title='Tiada kesunyataan tanpa pengorbanan, Empirisisme nasibmu kini.'/><author><name>boulevard</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12894712547553283504</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10223840.post-110607010308316046</id><published>2005-01-18T09:33:00.000-08:00</published><updated>2005-01-26T01:03:07.646-08:00</updated><title type='text'>Regenerasi </title><content type='html'>&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v237/zakiakhmad/DSCN0920kecil.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertempat di rumah &lt;a href="http://takutkodok.blogspot.com/"&gt;Kethy &lt;/a&gt;(Boulevard 2004, SBM 04), di bilangan Bandung Utara, Boulevard ITB telah melakukan proses regenerasi. Tampak di sebelah kiri, Zaki Akhmad(Boulevard 2001, Elektro 2001) berjabat tangan dengan penggantinya sebagai Pemimpin Umum, &lt;a href="http://www.geocities.com/aji_gps"&gt;Aji GPS &lt;/a&gt;(Boulevard 2003, Elektro 2003). Sebagai bentuk simbolis diserahkan dari Zaki kepada Aji satu bundel terbitan Boulevard Edisi 40-50 dalam map merah. Tampak di belakang (dari kiri ke kanan) Luthfi, Upi, Kethy, Ika, Batari (tertutup Zaki), Ani (berkerudung), Yasmin, Ikram, Dayeng, Dito, Rani, dan Maya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10223840-110607010308316046?l=boulevarditb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://boulevarditb.blogspot.com/feeds/110607010308316046/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10223840&amp;postID=110607010308316046' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10223840/posts/default/110607010308316046'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10223840/posts/default/110607010308316046'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://boulevarditb.blogspot.com/2005/01/regenerasi.html' title='Regenerasi '/><author><name>za</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='21' src='http://img.photobucket.com/albums/v237/zakiakhmad/za-top-of-merbabu.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10223840.post-110602180030630864</id><published>2005-01-17T19:58:00.000-08:00</published><updated>2005-01-17T20:42:40.620-08:00</updated><title type='text'>Memulai Sesuatu Untuk Orang</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Menyadari bahwa kemahasiswaan adalah wadah untuk mengabdi pada masyarakat, dan mahasiswa sebagai pengabdi masyarakatnya, blog ini merupakan permulaan dari bentuk pengabdian masyarakat dari pemikiran-pemikiran Boulevard.&lt;br /&gt;Ide-ide yang murni tanpa batas, pandangan kami terhadap masalah apapun, inilah tempat kami tumpahkan itu semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-PU Boulevard 2005-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aji GPS &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10223840-110602180030630864?l=boulevarditb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://boulevarditb.blogspot.com/feeds/110602180030630864/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10223840&amp;postID=110602180030630864' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10223840/posts/default/110602180030630864'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10223840/posts/default/110602180030630864'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://boulevarditb.blogspot.com/2005/01/memulai-sesuatu-untuk-orang.html' title='Memulai Sesuatu Untuk Orang'/><author><name>boulevard</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12894712547553283504</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
